Senin, 19 Agustus 2019

Pandangan Andragogi Menurut Carl Rogers & Maslow

Posted by Glendomi On Senin, Agustus 19, 2019 | No comments
Teori Kebutuhan Maslow
https://www.astalog.com/wp-content/uploads/2015/08/Teori_kebutuhan_maslow.png

Pandangan Carl Rogers tentang Konsep Andragogi
Menurut Rogers panggilan dari Carl Rogers yang dikutip oleh Anisah Basleman dan Syamsu Mappa (2011: 97) menyebutkan bahwa sistem pembelajaran yang berpusat pada peserta belajar membentuk suatu sistem yang merefleksikan konsep dasar terapi yang berpusat pada klien (client centered therapy). Pembelajaran yang berpusat pada peserta belajar pada hakikatnya merupakan versi terakhir dari metode temuan (discovery method).
Rogers mengemukakan ada tiga unsur penting dalam belajar berpengalaman (experimential learnig) yang serupa dengan pembelajaran dengan menggunakan konsep andragogi. Anisah Basleman dan Syamsu Mappa (2011: 97) menjabarkannya sebagai berikut:
a. Peserta belajar hendaknya dihadapkan pada masalah nyata yang ingin dicari penyelesaiannya;
b.    Apabila kesadaran akan masalah telah terbentuk, maka terbentuk pulalah sikap terhadap masalah tersebut. pada tahap ini, sikap terbentuk melalui proses kenyataan-penerimaan-pengertian empatik;
c.      Adanya sumber belajar, baik manusia maupun bahan tertulis/tercetak.
Pada perkuliahan Pendidikan Orang Dewasa (POD) oleh Prof. Dr. Sodiq A. Kuntoro, M. Ed (2011), Rogers mengungkapkan pandangannya tentang konsep andragogi melalui asumsi-asumsinya. Beberapa asumsi yang mendasari Student centered learning, Rogers adalah
a. Guru tidak dapat mengajar murid secara langsung, yang dilakukan guru adalah memfasilitasi kegiatan belajar siswa. Hal ini sama dengan prinsip seseorang tidak dapat merubah orang lain secara langsung yang dilakukan seseorang adalah membantu orang lain melakukan perubahan dirinya.
b.   Asumsi ke 2 belajar yang bermakna (Roger) adalah Pengalaman yang diasimilasikan dalam diri menimbulkan perubahan struktur diri atau stabilitas diri cenderung akan ditolak struktur diri atau organisasi diri cenderung menjadi kaku dalam situasi yang terdapat ancaman & menjadi rileks (kendor) apabila ancaman itu berkurang & hilang
c.      Asumsi yang ke 3 pengalaman yang dianggap/dipandang tidak sesuai dengan struktur diri dapat diasimilasikan dalam struktur diri apabila struktur diri yang sekarang ada dikendorkan atau diperluas sehingga dapat menerima pengalaman yang diterima dari luar.
Asumsi ke 2 dan 3 ini menggambarkan dalam kegiatan belajar yang bermakna orang dewasa sering mengalami ancaman terhadap struktur diri, kerangka berpikir yang lama & mereka dihadapkan pada upaya untuk membangun struktur diri yang baru. Oleh karena itu dalam kegiatan belajar yang bermakna bagi orang dewasa, guru (fasilitator) harus menyadari adanya perasaan ketidaknyamanan bagi orang dewasa untuk meninggalkan struktur diri yang lama untuk dapat membangun struktur diri yang baru. Proses belajar sebaiknya dapat memberikan rasa aman bagi orang dewasa untuk menghadapi perkembangan dalam dirinya dan membangun adaptasi aktif dirinya untuk menemukan makna baru dari pengalaman-pengalaman yang dihadapi. Bagi belajar orang dewasa lebih bersifat menemukan kegiatan belajar sebagai sesuatu yang bermakna bagi pengembangan struktur diri (yang mencakup dimensi kognitif, afektif dan sosial)
d.     Asumsi ke 4 adalah Praktik Pendidikan (pembelajaran) orang dewasa akan dapat menjadi efektif (belajar yang bermakna) apabila ancaman terhadap struktur diri individu peserta belajar dikurangi / dihilangkan & perbedaan persepsi terhadap pengalaman dari luar diberi ijin atau difasilitasi.

Pandangan Maslow tentang Konsep Andragogi
Seperti yang telah dijabarkan pada bahasan sebelumnya, bahwa konsep andragogy mengarah pada apresiasi dari pengalaman orang dewasa dalam kehidupannya sebagai hasil belajar orang dewasa. Menurut Sujarwo Salah satu prinsip belajar orang dewasa adalah belajar karena adanya suatu kebutuhan. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya, maka (partisipasinya) dalam aktivitas sosial dari setiap individu yang bersangkutan. Senada dengan hal tersebut, Maslow telah memberikan gambaran mengenai kebutuhan orang dewasa seperti berikut ini.
Dengan gambaran tersebut maka dapat diketahui bahwa pendidikan orang dewasa harus dapat memenuhi kebutuhan yang paling dasar adalah kebutuhan fisik atau sandang/pangan (biologis). Kemudian, seseorang perlu rasa aman yang artinya kebutuhan untuk hidup tanpa ketakutan. Setelah merasa aman, maka seseorang butuh penghargaan terhadap dirinya kemudian pada titik yang paling puncak adalah aktualisasi diri. Dalam kaitan hal tersebut maka secara psikologis, pendidikan orang dewasa harus memahami bentuk dari kebutuhan-kebutuhan orang dewasa sebagai subjek belajar sehingga dalam konteks penerapan pendidikan orang dewasa dapat dengan mudah ditentukan kondisi belajar yang harus diciptkan, isi materi yang harus diberikan, strategi, teknik serta metode yang cocok digunakan.

Referensi :

Basleman, Anisah & Syamsu Mappa. (2011). Teori Belajar Orang Dewasa. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Catatan Kuliah Pascasarjana UNY
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar