Selasa, 20 Agustus 2019

Add caption
Anak didefinisikan sebagai seorang laki-laki maupun perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas atau belum pernah menikah dengan rentang usia 6-18 tahun. Undang-undang Nomor 23 Pasal 1 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dalam rentang usia tersebut anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental. Pertumbuhan dan perkembangan anak pada dasarnya tidak terlepas dari peran lingkungan dan orang-orang sekitar, mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga sampai pada lingkungan masyarakat. Namun, nyatanya masa-masa ini merupakan masa dimana anak-anak terutama dari kalangan keluarga “kurang” baik secara ekonomi maupun kurang lengkapnya anggota keluarga inti (ayah maupun ibu) serta ketidakmampuan orangtua dalam mengasuh anak dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal ini menyebabkan anak mengalami keterlantaran secara fisik, psikis, sosio-emosional dan spiritual. 

Keterlantaran merupakan istilah yang diasumsikan sebagai bentuk ketidakmampuan dalam upaya-upaya pemenuhan hak-hak yang menjadi dasar untuk menuju keidealan. Anak yang mengalami keterlantaran (anak terlantar) diidentifikasi memiliki kondisi dimana anak dalam rentang usia 6-18 tahun yang dikarenakan sebab-sebab tertentu seperti yang telah dijelaskan di atas maka orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan anaknya sendiri, baik secara fisik, psikis, sosial maupun spiritual anak. Keterlantaran anak secara langsung akan mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak. Namun, kenyataannya tidak sedikit orangtua yang belum memahami dan mengetahui sebab-sebabnya sehingga anak mengalami keterlantaran.

Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia (Permensos RI) Nomor 21 Pasal 2 Tahun 2013 tentang Pengasuhan Anak menyebutkan bahwa pengasuhan anak didasarkan prinsip perlindungan anak atas hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan. Hal ini menggambarkan bahwa pengasuhan anak terwujud dari peran orangtua. Peran orangtua dalam hal ini adalah ayah dan atau ibu kandung, wali serta pengasuh seolah-olah menjadi penggerak utama dalam melakukan pengasuhan terhadap anak. Orangtua memiliki tanggung jawab dan tugas untuk menjalankan fungsi-fungsi pengasuhan seperti membesarkan, membimbing dan mendidik. Selain itu, orangtua berperan dalam melindungi anaknya dari tindakan-tindakan yang merugikan, seperti tindak kekerasan, eksploitasi, penelantaran dan perlakuan salah. Tanggung jawab yang dijalankan oleh orangtua seyogyanya sesuai dengan kapasitas anak yang selalu berkembang (evolving capacities).

Perkembangan anak selalu didasarkan pada minat dan bakatnya, karena setiap anak merupakan individu yang unik dengan ke-khas-an tersendiri. Anak tidak dilahirkan sama dengan anak yang lain, meskipun anak tersebut kembar, bahkan kembar identik pun pasti memiliki perbedaan. Anak dengan ciri khasnya masing-masing sudah seharusnya dapat hidup dan terjamin atas kehidupannya. Penjaminan atas hidup dan keberlangsungan kehidupan seorang anak menjadi tugas utama para orangtua. Orangtua berperan aktif bagi terwujudnya kehidupan ideal yang mampu memfasilitasi anak untuk dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya. Oleh karena itu, peran orangtua dirasakan penting dalam menciptakan pengasuhan anak dalam keluarga sehingga anak terhidar dari keterlantaran. (Mochamad Fatchan Chasani)

Senin, 19 Agustus 2019

Pandangan Andragogi Menurut Carl Rogers & Maslow

Posted by Glendomi On Senin, Agustus 19, 2019 | No comments
Teori Kebutuhan Maslow
https://www.astalog.com/wp-content/uploads/2015/08/Teori_kebutuhan_maslow.png

Pandangan Carl Rogers tentang Konsep Andragogi
Menurut Rogers panggilan dari Carl Rogers yang dikutip oleh Anisah Basleman dan Syamsu Mappa (2011: 97) menyebutkan bahwa sistem pembelajaran yang berpusat pada peserta belajar membentuk suatu sistem yang merefleksikan konsep dasar terapi yang berpusat pada klien (client centered therapy). Pembelajaran yang berpusat pada peserta belajar pada hakikatnya merupakan versi terakhir dari metode temuan (discovery method).
Rogers mengemukakan ada tiga unsur penting dalam belajar berpengalaman (experimential learnig) yang serupa dengan pembelajaran dengan menggunakan konsep andragogi. Anisah Basleman dan Syamsu Mappa (2011: 97) menjabarkannya sebagai berikut:
a. Peserta belajar hendaknya dihadapkan pada masalah nyata yang ingin dicari penyelesaiannya;
b.    Apabila kesadaran akan masalah telah terbentuk, maka terbentuk pulalah sikap terhadap masalah tersebut. pada tahap ini, sikap terbentuk melalui proses kenyataan-penerimaan-pengertian empatik;
c.      Adanya sumber belajar, baik manusia maupun bahan tertulis/tercetak.
Pada perkuliahan Pendidikan Orang Dewasa (POD) oleh Prof. Dr. Sodiq A. Kuntoro, M. Ed (2011), Rogers mengungkapkan pandangannya tentang konsep andragogi melalui asumsi-asumsinya. Beberapa asumsi yang mendasari Student centered learning, Rogers adalah
a. Guru tidak dapat mengajar murid secara langsung, yang dilakukan guru adalah memfasilitasi kegiatan belajar siswa. Hal ini sama dengan prinsip seseorang tidak dapat merubah orang lain secara langsung yang dilakukan seseorang adalah membantu orang lain melakukan perubahan dirinya.
b.   Asumsi ke 2 belajar yang bermakna (Roger) adalah Pengalaman yang diasimilasikan dalam diri menimbulkan perubahan struktur diri atau stabilitas diri cenderung akan ditolak struktur diri atau organisasi diri cenderung menjadi kaku dalam situasi yang terdapat ancaman & menjadi rileks (kendor) apabila ancaman itu berkurang & hilang
c.      Asumsi yang ke 3 pengalaman yang dianggap/dipandang tidak sesuai dengan struktur diri dapat diasimilasikan dalam struktur diri apabila struktur diri yang sekarang ada dikendorkan atau diperluas sehingga dapat menerima pengalaman yang diterima dari luar.
Asumsi ke 2 dan 3 ini menggambarkan dalam kegiatan belajar yang bermakna orang dewasa sering mengalami ancaman terhadap struktur diri, kerangka berpikir yang lama & mereka dihadapkan pada upaya untuk membangun struktur diri yang baru. Oleh karena itu dalam kegiatan belajar yang bermakna bagi orang dewasa, guru (fasilitator) harus menyadari adanya perasaan ketidaknyamanan bagi orang dewasa untuk meninggalkan struktur diri yang lama untuk dapat membangun struktur diri yang baru. Proses belajar sebaiknya dapat memberikan rasa aman bagi orang dewasa untuk menghadapi perkembangan dalam dirinya dan membangun adaptasi aktif dirinya untuk menemukan makna baru dari pengalaman-pengalaman yang dihadapi. Bagi belajar orang dewasa lebih bersifat menemukan kegiatan belajar sebagai sesuatu yang bermakna bagi pengembangan struktur diri (yang mencakup dimensi kognitif, afektif dan sosial)
d.     Asumsi ke 4 adalah Praktik Pendidikan (pembelajaran) orang dewasa akan dapat menjadi efektif (belajar yang bermakna) apabila ancaman terhadap struktur diri individu peserta belajar dikurangi / dihilangkan & perbedaan persepsi terhadap pengalaman dari luar diberi ijin atau difasilitasi.

Pandangan Maslow tentang Konsep Andragogi
Seperti yang telah dijabarkan pada bahasan sebelumnya, bahwa konsep andragogy mengarah pada apresiasi dari pengalaman orang dewasa dalam kehidupannya sebagai hasil belajar orang dewasa. Menurut Sujarwo Salah satu prinsip belajar orang dewasa adalah belajar karena adanya suatu kebutuhan. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya, maka (partisipasinya) dalam aktivitas sosial dari setiap individu yang bersangkutan. Senada dengan hal tersebut, Maslow telah memberikan gambaran mengenai kebutuhan orang dewasa seperti berikut ini.
Dengan gambaran tersebut maka dapat diketahui bahwa pendidikan orang dewasa harus dapat memenuhi kebutuhan yang paling dasar adalah kebutuhan fisik atau sandang/pangan (biologis). Kemudian, seseorang perlu rasa aman yang artinya kebutuhan untuk hidup tanpa ketakutan. Setelah merasa aman, maka seseorang butuh penghargaan terhadap dirinya kemudian pada titik yang paling puncak adalah aktualisasi diri. Dalam kaitan hal tersebut maka secara psikologis, pendidikan orang dewasa harus memahami bentuk dari kebutuhan-kebutuhan orang dewasa sebagai subjek belajar sehingga dalam konteks penerapan pendidikan orang dewasa dapat dengan mudah ditentukan kondisi belajar yang harus diciptkan, isi materi yang harus diberikan, strategi, teknik serta metode yang cocok digunakan.

Referensi :

Basleman, Anisah & Syamsu Mappa. (2011). Teori Belajar Orang Dewasa. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Catatan Kuliah Pascasarjana UNY

Filsafat Ilmu : Sebuah Hakikat

Posted by Glendomi On Senin, Agustus 19, 2019 | No comments


A.    PENGANTAR
Filsafat ilmu secara kalimat terdiri atas dua kata, yaitu filsafat dan ilmu. Kedua kata tersebut satu sama lain saling berkait erat, dimana filsafat didasarkan bagi perkembangan ilmu dan juga sebaliknya perkembangan ilmu menjadi penguat adanya filsafat. Dewasa ini, filsafat menjadi tonggak adanya perubahan yang mendasar bagi kehidupan. Perubahan yang terjadi terlihat dari adanya pergeseran kepercayaan dan pemahaman zaman lampau mengenai pandangannya terhadap dunia yang dikuasai oleh kekuatan-kekuatan mistik atau magis. Dewa-dewa seolah-olah menjadi penggerak alam semesta dan hal itu wajib diimani manusia pada zaman itu. Namun, pergeseran terjadi dari pola pikir mistis menjadi pola pikir logis, dimana meletakkan pikiran-pikiran rasionalitas sebagai bentuk mencari kebenaran.
Pergeseran tersebut menjadi jalan terwujudnya suatu perubahan fundamental. Seperti yang diungkapkan Amsal Bakhtiar dalam pendahuluan buku “Filsafat Ilmu” bahwa perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik di alam jagad raya (makrokosmos) maupun alam manusia (mikrokosmos). Dari penelitian alam jagad raya bermunculan ilmu astronomi, kosmologi, fisika, kimia dan sebagainya, sedangkan dari manusia muncul ilmu biologi, psikologi, sosiologi dan sebagainya. Ilmu-ilmu tersebut kemudian dalam perkembangannya menjadi lebih khusus (terspesialisasi) dengan bentuk yang lebih kecil dan sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya.
Usaha untuk menggali lebih dalam mengenai filsafat ilmu maka dapat dilakukan dengan jalan mengetahui terlebih dahulu arti dari filsafat dan ilmu. Menurut Mohammad Adib (2010: 35) mendeskripsikan filsafat adalah suatu pengetahuan yang bersifat eksistensial artinya sangat erat hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan, dapat dikatakan filsafatlah yang menjadi motor penggerak kehidupan kita sehari-hari baik sebagai manusia pribadi maupun sebagai manusia kolektif dalam suatu masyarakat atau bangsa. Sedangkan kata ilmu merupakan terjemahan dari kata “science” artinya ”to know” yang diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang bersifat kuantitatif dan objektif. Ilmu dikatakan rasional, karena ilmu merupakan hasil dari proses berpikir dengan menggunakan akal, atau hasil berpikir secara rasional.
Berdasarkan definisi filsafat dan ilmu maka dapat ditarik suatu pengertian mengenai filsafat ilmu yaitu penyatuan pemikiran (hasil berpikir logis) yang didasarkan atas ilmu sebagai usaha dalam pemecahan persoalan-persoalan atau pencarian kebenaran berkaitan dengan kehidupan manusia.
Ilmu sebagai objek kajian dalam filsafat menempatkan ilmu dalam dua objek yaitu (1) objek material dan (2) objek formal. Objek material lebih mengarah pada segala sesuatu yang menjadi bahan untuk dicari, digali dan diselidiki. Sedangkan objek formal lebih fokus pada cara-cara atau metoda dalam menyelidiki suatu bahan atau materi. Definisi menurut Amsal Bakhtiar (2013: 1) mengenai objek material adalah segala yang ada mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Ada yang tampak adalah dunia empiris, sedangkan ada yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filsuf membagi objek material filsafat atas tifa bagian yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam pikiran dan yang ada dalam kemungkinan. Adapun, objek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal dan rasional tentang segala yang ada.
   
B.     LANDASAN-LANDASAN FILSAFAT ILMU
Landasan filsafat ilmu menjelaskan mengenai penjabaran, pengkajian dan penelaahan ilmu. Uraian tersebut merupakan upaya dalam memberikan gambaran mengenai hakikat keberadaan ilmu. Beberapa penelaahan ilmu dari landasan filsafat ilmu dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Landasan Ontologi
Menurut Amsal Bakhtiar (2013: 132) menjelaskan bahwa kata ontologi berasal dari perkataan Yunani : On = being dan Logos = logic. Jadi ontologi adalah the theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan).
Di sisi lain, Noeng Muhadjir (2001: 57) mengatakan bahwa ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada secara universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Sedangkan menurut Jujun S. Suriasumantri dalam Amsal Bakhtiar (2013: 133), ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu atau dengan perkataan lain, pengkajian mengenai teori tentang “ada”.
Amsal Bakhtiar (1997: 169) juga menjelaskan ontologi adalah teori atau ilmu tentang wujud, tentang hakikat yang ada, dimana ontologi tidak banyak berdasar pada alam nyata, tetapi pada logika semata-mata.
Lebih lanjut, ontologi berupaya mengetahui tentang hakikat sesuatu, antara lain ingin mengetahui bagaimana realita yang ada, apakah materi saja, apakah wujud sesuatu ini bersifat tetap, kekal tanpa perubahan, apakah realita terbentuk satu unsur (monoisme), dua unsur (dualisme) ataukah terdiri dari unsur yang banyak (pluralisme). Ontologi dibatasi adanya mutlak, keterbatasan, umum dan khusus.
Di dalam pemahaman ontologi, Amsal Bakhtiar (2013: 135) menentukan pandangan-pandangan pokok pemikiran yang menjadi suatu paham sebagai berikut:
a.      Monoisme
Paham ini menyatakan bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan hanya satu saja, tidak mungkin dua, sehingga harus satu hakikat saja sebagai sumber asal, baik yang asal berupa materi maupun berupa rohoni. Dalam perkembangannya paham ini terbagi menjadi dalam dua aliran yaitu aliran materialisme dan aliran idealisme.
b.     Dualisme
Paham ini menganggap terdapat dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohoni, benda dan ruh, jasad, dan spirit.
c.      Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan, dimana dunia adalah dunia yang terdiri dari banyak hal yang beraneka ragam atau plurals.
d.     Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif positif. Pertama, tidak ada sesuatu pun yang eksis. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Ini disebabkan oleh penginderaan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan itu sumber ilusi. Begitu juga dengan akal yang bersifat subjektif.
e.      Agnostisisme
Paham yang mengingkari atau menyangkal adanya kemampuan manusia mengetahui hakikat benda baik materi maupun rohani.
Berdasarkan beberapa pengertian dan pandangan di atas mengenai ontologi maka dapat disimpulkan bahwa ontologi merupakan ilmu atau teori tentang keberadaan yang menyelidiki hakikat alam nyata dan bagaimana keadaan yang sebenarnya atau merupakan apa yang menjadi obyek kajian.
2.      Landasan Epistemologi
Epistemologi adalah pengetahuan yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah pengetahuan, cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan dan jenis-jenis pengetahuan. Menurut epistemologi, setiap pengetahuan manusia itu adalah hasil dari benda atau diperiksa, diselidiki dan akhirnya diketahui (obyek), manusia juga melakukan berbagai pemeriksaan dan penyelidikan dan akhirnya mengetahui (mengenal) benda atau hal yang telah diselidiki tadi (subyek), (Salam, 1997:19). Kemudian, epistemologi membahas sumber, proses, syarat, batas fasilitas dan hakikat pengetahuan yang memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran kepada murid-muridnya (Noor Syam, 1986: 95).
Amsal Bakhtiar (2013: 148) menjelaskan bahwa epistemologi ialah teori pengetahuan yang merupakan cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya secara pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Di lain pihak, Aripin Banasuru (2013: 96) menjabarkan epistemologi terdiri atas epistemologi subjektif dan epistemologi pragmatik. Epistemologi subjektif memberikan implikasi pada standar rasional tentang hal yang diyakini. Menggunakan standar berarti bahwa sesuatu yang diyakini benar itu, tentunya memiliki sifat yang reliabel. Apabila ajeg  sebagai standar, para reliabilis itu pada hakikatnya adalah objektivitas. Sebaliknya, karena yang diyakini benar tersebut perlulah terolah secara reflektif, maka sifatnya menjadi kembali subjektif.
Ditambahkan kembali oleh Amsal Bakhtiar (2013: 152-155) bahwa pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, di antaranya adalah:
a.      Metode Induktif
Metode induktif memberi pengertian pada penyimpulan hasil observasi menuju suatu pernyataan yang lebih umum
b.     Metode Deduktif
Metode deduktif memfokuskan pada pengolahan data-data empirik secara runtut (perbandingan logis atas kesimpulan-kesimpulan itu sendiri).
c.      Metode Positivisme
Metode positivisme berpusat pada apa yang diketahui, faktual dan positif (menolak adanya metafisika)
d.     Metode Kontemplatif
Metode kontemplatif berpangkal pada kekuatan kontemplasi (renungan dan intuisi)
e.      Metode Dialektis
Metode dialektis merupakan dialog sebagai cara menyelidiki sesuatu masalah (berpikir filsafat). Dialektis disebut juga metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Dialektika berarti tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan.
Berdasarkan kajian mengenai epistemologi di atas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa epistemologi merupakan teori tentang pengetahuan yang memfokuskan pada cara perolehan atau penangkapan pengetahuan dan jenis-jenis pengetahuan yang dilakukan oleh manusia. Epistemologi mengilhami adanya hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang pengetahuan. Dampak yang dimunculkan dari adanya epistemologi yaitu berkembangnya ilmu pengetahuan (iptek), meningkatnya peradaban manusia dan tercapainya kesejahteraan sosial.
3.      Landasan Aksiologi
Amsal Bakhtiar (2013: 163) menguraikan beberapa definisi aksiologi sebagai berikut:
a.    Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti ilmu. Jadi aksiologi adalah “teori tentang nilai”.
b.  Sedangkan arti aksiologi menurut Jujun S. Suriasumantri diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan keguanaan dari pengetahuan yang diperoleh
c.     Menurut Bramel, aksiologi terbagai dalam 3 bagian. Pertama, moral conduct yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus, yakni etika. Kedua, esthetic espression yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Ketiga, sosio-political life, yaitu kehidupan sosial politik, yang akan melahirkan filsafat sosio-politik.
Aksiologi menyangkut nilai-nilai yang berupa pertanyaan, apakah yang baik dan bagus itu (Manfaat). Aksiologi Scheler dalam Aripin Banasuru (2013: 96) menampilkan konsep-konsep etik tentang pengalaman nilai, bedanya yang baik dengan yang mempunyai value. Scheler menampilkan 4 jenis values sebagai berikut:
a.      Values sensual, dalam tampilan seperti menyenangkan dan tidak menyenangkan;
b.      Nilai hidup, seperti agung atau bersahaja;
c.       Nilai kejiwaan, seperti nilai estetis, nilai benar, nilai salah dan nilai intrinsik ilmu;
d.      Nilai religius, seperti yang suci dan yang sakral.
Lebih lanjut, aksiologi dipahami sebagai pencapaian manfaat dari suatu objek yang berorientasi pada nilai. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Mohammad Adib (2010) yang menjelaskan bahwa aksiologi merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang orientasi atau nilai suatu kehidupan. Ditambahkan pula pada Encyclopedia of Philosophy dalam Amsal Bakhtiar (2013: 164-165) bahwa aksiologi disamakan dengan value and valuation. Terdapat 3 bentuk value and valuation yang dijabarkan sebagai berikut:
a.     Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak;
b.     Nilai digunakan sebagai kata benda konkret;
c.  Nilai digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai dan dinilai.
Berdasarkan atas definisi dan penjabaran mengenai aksiologi di atas maka dapat digarisbawahi adanya fokus pada nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan sesuatu dengan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Kemudian, pada tahap berikutnya teori tentang nilai dibahas lebih lanjut pada etika dan estetika.

4.      Landasan Etika
Menurut Mohammad Adib (2010: 205) menjelaskan dalam bahasa Inggris etika disebut ethic (singular) yang berarti a system of moral principle or rules of behaviour, atau suatu sistem, prinsip moral, aturan atau cara berperilaku. Akan tetapi, terkadang ethics (dengan tambahan huruf s) dapat berarti singular yang berarti the branch of philosophy that deals with moral principles, suatu cabang filsafat yang memberikan batasan prinsip-prinsip moral. Jika ethics dengan maksud plural (jamak) berarti moral principles that govern or influence a person’s behaviour, prinsip-prinsip moral dipengaruhi oleh perilaku pribadi.
Di sisi lain, Aripin Banasuru (2013: 126) menjelaskan istilah etika berasal dari bahasa Yunani Kuno. Kata ethos dalam bentuk tunggal memiliki banyak arti: tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan dan sikap cara berpikir. Dalam bentuk jamak ta etha yang berarti adat kebiasaan yang kemudian menjadi latar belakang terbentuknya istilah “etika”. Istilah etika sering disinonimkan dengan istilah seperti moral, susila, budi pekerti, dan akhlak.
Usaha dalam menyelidiki tingkah laku moral ini dapat diklasifikasikan menurut Mohammad Adib (2010: 206) sebagai berikut:
a.    Etika deskriptif; mendeskripsikan tingkah laku moral dalam arti luas, seperti adat kebiasaan, anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Objek penyelidikannya adalah individu-individu dan kebudayaan-kebudayaan.
b.   Etika normatif; seseorang dapat dikatakan sebagai participation approach karena yang bersangkutan telah melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia. Ia tidak netral karena berhak untuk mengatakan atau menolak suatu etika tertentu.
c.    Metaetika; berawal dari meta (Yunani) yang berarti “melebihi” atau “melampaui”. Metaetika bergerak seolah-olah pada taraf lebih tinggi daripada perilaku etis yaitu pada taraf “bahasa etis” atau bahasa yang digunakan di bidang moral.
Berdasarkan penjelasan mengenai etika maka dapat disimpulkan bahwa etika memuat ilmu tentang sistem, prinsip moral, dan cara berperilaku. Perilaku atau tingkah laku dalam etika dimaknai dalam konteks baik-buruk dan salah-benar. Selain itu, etika menggali dalam hal kebiasaan-kebiasaan manusia yang kemudian menjadi landasan manusia dalam berbudaya. Lebih lanjut, dalam perkembangannya melalui etika maka manusia diharapkan mampu menjadikan pondasi sehingga menghindari adanya penyimpangan-penyimpangan dan kejahatan dalam kehidupan. Di samping itu, melalui etika maka akan diharapkan manusia mampu dalam menumbuhkan kesadaran moral baik secara individu maupun sosial.
5.      Landasan Positivisme
Mohammad Adib (2010: 122) memaparkan bahwa positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857) yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat. Positivisme sebagai perkembangan empirisme yang ekstrem adalah pandangan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah “data-data yang nyata/empirik”, atau yang dinamakan positif. Penganut paham ini meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan demikian juga alam.
Di sisi lain, Amsal Bakhtiar (2013: 154) menuliskan bahwa positivisme mengenyampingkan segala uraian/ persoalan di luar yang ada sebagai fakta. Hal ini dikarenakan positivisme berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual dan positif sehingga menolak adanya metafisika.
Menurut August Comte dalam Amsal Bakhtiar (2013: 154) menjabarkan bahwa perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam 3 tahap sebagai berikut:
a.      Tahap Teologis
Tahap ini menjelaskan pada dasarnya orang berkeyakinan bahwa dibalik segala sesuatu tersirat pernyataan kehendak khusus.
b.     Tahap Metafisis
Pada tahap metafisis terdapat kekuatan adikodrati yang diubah menjadi kekuatan yang abstrak, yang kemudian dipersatukan dalam pengertian yang bersifat umum yang disebut alam dan dipandangnya sebagai asal dari segala gejala.
c.      Tahap Positif
Pada tahap ini, usaha untuk mencapai pengenalan yang mutlak, baik pengetahuan teologis ataupun metafisis dipandang tak berguna, menurutnya, tidaklah berguna melacak asal dan tujuan akhir seluruh alam (melacak hakikat yang sejati dari segala sesuatu) karena yang penting adalah menemukan hukum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta dengan pengamatan dan penggunaan akal.
Pandangan yang muncul mengenai ontologi dan epistemologi dari positivisme adalah sebagai berikut:
a.    Ontologi bersifat nyata, artinya realita itu memiliki keberadaan sendiri yang diatur oleh hukum-hukum alam dan mekanisme yang bersifat tetap;
b.    Epistemologi; memiliki ciri dualis (objektif) dan bersifat esensial dimana terdapat kemungkinan bagi peneliti untuk mengambil jarak dan bersikap tidak melakukan interaksi dengan objek yang diteliti.
Berdasarkan paparan mengenai positivisme maka dapat digarisbawahi bahwa positivisme merupakan cara pandang dalam memahami dunia berdasarkan sains yang menganggap segala sesuatu yang diselidiki atau dipelajari adalah data-data empirik/nyata. Positivisme secara kuat mempertahankan dirinya pada segala sesuatu yang telah diketahui, faktual dan positif melalui segala yang tampak dan segala gejala dengan menggunakan penginderaan manusia (observasi).
6.      Landasan Post-Positivisme
Post-positivisme muncul sebagai bentuk perbaikan dari adanya positivisme. Guba (1990: 20) menjelaskan Postpositivisme sebagai berikut: “Postpositivism is best characterized as modified version of positivism. Having assessed the damage that positivism has occured, postpositivists strunggle to limited that damage as well as to adjust to it. Prediction and control continue to be the aim.” Post-positivisme mempunyai ciri utama sebagai suatu modifikasi dari positivisme. Melihat banyaknya kekurangan pada positivisme menyebabkan para pendukung post-positivisme berupaya memperkecil kelemahan tersebut dan menyesuaikannya. Prediksi dan kontrol tetap menjadi tujuan dari post-positivisme tersebut.
Lebih lanjut, menurut Guba (1990: 23) pandangan yang muncul mengenai ontologi dan epistemologi dari post-positivisme adalah sebagai berikut:
a.     Ontology : “Critical realist – reality exist but can never be fully apprehended. It is driven by natural laws that can be only incompletely understood”. Asumsi ontologi: “Realis kritis artinya realitas itu memang ada, tetapi tidak akan pernah dapat dipahami sepenuhnya. Realitas diatur oleh hukum-hukum alam yang tidak dipahami secara sempurna.”
b.     Epistomology: “Modified objectivist – objectivity remains a regulatory ideal, but it can only be approximated with special emphasis placed on external guardians such as the critical tradition and critical community”. Asumsi epistomologi: “Objektivis modifikasi artinya objektivitas tetap merupakan pengaturan (regulator) yang ideal, namun objektivitas hanya dapat diperkirakan dengan penekanan khusus pada penjaga eksternal, seperti tradisi dan komunitas yang kritis”.
c. “Methodology: Modified experimental/manipulative – emphasize critical multiplism. Redress imbalances by doing inquiry in more natural settings, using more qualitative methods, depending more on grounded theory, and reintroducing discovery into the inqury process”. Asumsi metodologi: eksperimental/manipulatif yang dimodifikasi, maksudnya menekankan sifat ganda yang kritis. Memperbaiki ketidakseimbangan dengan melakukan penelitian dalam latar yang alamiah, yang tidak banyak menggunakan metode-metode kualitatif, lebih tergantung pada teori-grounded (grounded-theory) dan memperlihatkan upaya (reintroducing) penemuan dalam proses penelitian.
Salim (2001:40) menjelaskan pandangannya mengenai post-positivisme sebagai aliran yang ingin memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme yang hanya mengandalkan kemampuan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. Secara ontologi aliran ini bersifat critical realism yang memandang bahwa realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, tetapi suatu hal, yang mustahil bila suatu realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia (peneliti). Selanjutnya dijelaskan secara epistomologis hubungan antara pengamat atau peneliti dengan objek atau realitas yang diteliti tidaklah bisa dipisahkan, tidak seperti yang diusulkan aliran Positivisme. Aliran ini menyatakan suatu hal yang tidak mungkin mencapai atau melihat kebenaran apabila pengamat berdiri di belakang layar tanpa ikut terlibat dengan objek secara langsung. Oleh karena itu, hubungan antara pengamat dengan objek harus bersifat interaktif, dengan catatan bahwa pengamat harus bersifat senetral mungkin, sehingga tingkat subjektivitas dapat dikurangi secara minimal.
Bentuk kritikan terhadap positivisme ditulis oleh Salim (2001) dalam 3 hal pokok sebagai berikut:
a.       Observasi sebagai unsur utama metode penelitian
b.      Hubungan yang kaku antara teori dan bukti
c.       Tradisi keilmuan yang terus berkembang dan dinamis
Berdasarkan kajian mengenai post-positivisme maka dapat disimpulkan bahwa post-positivisme merupakan bentuk perbaikan dari adanya positivisme menekankan adanya kelemahan dari observasi, artinya pada positivisme berpandangan bahwa pengamatan langsung melalui inderawi terhadap objek penelitian dianggap sudah cukup untuk dilakukan. Padahal harus terdapat analisis lanjut terkait objek yang diteliti, sehingga hal ini memunculkan post-positivisme sebagai hasil koreksi positivisme. Oleh karena itu, dalam post-positivisme menghendaki adanya analisis lanjut dari objek penelitian sebagai upaya untuk mencapai objektivitas yang tinggi.
C.    KESIMPULAN
Filsafat dan ilmu bergabung membentuk filsafat ilmu yang sejatinya mengarah pada satu tujuan yaitu berkembangnya ilmu dan pengetahuan. Kolaborasi keduanya secara berurutan menelaah mengenai dasar-dasar ilmu, metode dan konsep. Mustansyir dan Munir (2001: 49) menjelaskan bahwa filsafat ilmu sebagai cabang pengetahuan filsafati yang menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, metode-metodenya, konsep-konsepnya dan pranggapan-praanggapannya serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang pengetahuan intelektual.
Ditambahkan pula oleh Aripin Banasuru (2013: 17) bahwa filsafat ilmu merupakan cabang khusus filsafat yang membicarakan tentang sejarah perkembangan ilmu, metode-metode ilmiah dan sikap etis para ilmuwan. Secara umum sikap etis yang harus dikembangkan para ilmuwan mengandung tujuan-tujuan sebagai berikut:
1.   Filsafat ilmu sebagai sarana pengujuan penalaran ilmuah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmuah;
2.  Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode keilmuan;
3.     Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan.
Dengan berbagai landasan filsafat ilmu yang telah dijabarkan di atas maka semestinya dapat digunakan dalam upaya memberikan gambaran mengenai hakikat keberadaan ilmu, sehingga pada akhirnya filsafat ilmu dapat mewujudkan perkembangan ilmu, pengetahuan dan teknologi serta mengarahkan pada penggalian seluruh potensi dan sumber daya yang ada demi tercapainya kesejahteraan manusia.



DAFTAR PUSTAKA

Adib, Mohammad. 2010. Filsafat Ilmu : Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu Pengetahuan, Edisi ke 2, Cetakan 1. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Bakhtiar, Amsal. 1997. Filsafat Agama I. Jakarta : Logos Wacana Ilmu
Bakhtiar, Amsal. 2013. Filsafat Ilmu. Jakarta : Rajawali Pers
Banasuru, Aripin (2013). Filsafat dan Filsafat Ilmu: dari hakikat ke tanggung jawab. Bandung: Alfabeta.
Guba, E.G. 1990. The Paradigm Dialog. Newbury Park, CA: Sage.
Muhadjir, Noeng. 2001. Filsafat Ilmu, Positivisme, Post Positivisme, Post Modernisme. Yogyakarta : Rakesarin
Mustansyir, Rizal dan Misnal Munir. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Noor Syam, Muhammad. 1986. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Usaha Nasional.
Salam, Burhanuddin. (1997). Pengantar Pedagodik, (Dasar-dasar Ilmu Mendidik),(akarta: Rineka Cipta.
Salim, Agus. (2001). Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara wacana.