Rabu, 03 Oktober 2012

Komponen-komponen Pembelajaran

Posted by Glendomi On Rabu, Oktober 03, 2012 | 2 comments
Beberapa pakar menyebutkan bahwa pembelajaran merupakan bentuk interaksi antara pendidik dengan peserta didik. Dalam perkembangannya, pembelajaran bukan hanya bentuk interaksi pendidik dan peserta didik saja, namun juga dengan sumber-sumber belajar. Hal ini dapat diartikan bahwa pembelajaran merupakan sebuah sistem yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Pembelajaran sebagai sebuah sistem terdiri dari komponen-komponen yang saling berinteraksi, berinterelasi, dan berinterdependensi antara satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Komponen tersebut antara lain tujuan, pendidik, peserta didik, kurikulum, strategi, media, dan evaluasi. Komponen-komponen pembelajaran dapat digambarkan melalui bagan sebagai berikut:
Bagan tersebut secara jelas telah menggambarkan bahwa pembelajaran merupakan bentuk integritas yang membentuk suatu proses timbal balik antara komponen-komponennya. Komponen pembelajaran tersebut membentuk suatu pola saling berhubungan dan saling mempengaruhi.

1.      Tujuan Pembelajaran
Pembelajaran pada dasarnya mengacu tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran memiliki peran penting dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan tujuan pembelajaran digunakan sebagai konsep dan pola pembelajaran yang akan dilakukan. Menurut Hermawan (2008: 9.4) Tujuan pembelajaran merupakan rumusan perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar tampak pada diri siswa sebagai akibat dari perbuatan belajar yang telah dilakukan. Hermawan (2008: 1.17) Tujuan yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas terhadap pemilihan materi / bahan ajar, strategi, media, dan evaluasi.
Tujuan pembelajaran tidak terlepas dari tuntutan zaman dan kebutuhan. Hal ini dikarenakan bahwa pembelajaran dirancang sedemikian rupa guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Selain itu, tujuan pembelajaran disusun mengacu pada falsafah dan ideologi suatu bangsa. Hal ini memiliki makna bahwa pembelajaran merupakan subsistem dari pendidikan secara umum yang mengemban beberapa aspek yang meliputi poltik, budaya, ekonomi dan juga kekuatan-kekuatan sosial.
Pendapat lainnya dikemukakan oleh Bloom pada teorinya yaitu Taknonomi Bloom yang menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran memiliki 3 aspek. Aspek-aspek tersebut meliputi kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan). Ketiga aspek tersebut dijadikan sebagai standard kemampuan yang harus dicapai di dalam pembelajaran dengan kata lain bahwa ketiga aspek tersebut merupakan indikator kualitas pencapaian hasil belajar peserta didik.
Sujarwo (2012: 5) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran ada dua jenis, yaitu: 1) tujuan pembelajaran umum, dan 2) tujuan pembelajaran khusus. Tujuan pembelajaran umum harus mempertimbangkan relevansi tujuan dengan tujuan yang lebih tinggi. Dalam merumuskan tujuan instruksional umum relevansi tujuan kurikuler mata pelajaran yang bersangkutan termasuk pengembangannya dan bidang pekerjaan yang akan dihadapi menjadi rumusan yang sangat penting. Tujuan pembelajaran khusus dalam perumusannya dilakukan melalui langkah: 1) melakukan analisis instruksional, 2) mengidentifikasi perilaku awal peserta didik, 3) merumuskan standar kompetensi, 4) kompetensi dasar, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi pokok, pengalaman belajar, 7) langkah-langkah pembelajaran, 8) media dan sumber belajar, 9) penilaian. Secara operasional ada empat faktor yang digunakan untuk menentukan tujuan pembelajaran, yaitu : 1) attention, 2) behavior 3) confidance dan 4) degree. Seorang pendidik dituntut untuk dapat mencapai tujuan ke dalam empat aspek tersebut yang telah dirumuskan dalam tujuan instruksional khusus setelah proses pembelajaran.
2.      Pendidik
Pendidik menjadi komponen pembelajaran berikutnya yang menempati posisi dalam menciptakan kegiatan belajar-mengajar baik di kelas maupun di luar kelas. Pendidik di dalam perkembangannya bukan lagi berperan sebagai sumber dari segala sumber belajar namun lebih berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan belajar peserta didik. Hal ini dijelaskan secara lebih mendalam oleh Hermawan, dkk (2008: 9.4) yang menyatakan bahwa pendidik menempati posisi kunci dan strategis dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan untuk mengarahkan siswa agar dapat mencapai tujuan secara optimal. Pendidik harus mampu menempatkan dirinya sebagai diseminator, informator, transmitter, transformator, organizer, fasilitator, motivator, dan evaluator bagi terciptanya proses pembelajaran siswa yang dinamis dan inovatif.
Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 butir 6, Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan istilah lainnya yang sesuai dengan kekhususannya yang juga berperan dalam pendidikan. Mengacu pada UU sisdiknas dapat diartikan bahwa pendidik merupakan tenaga kependidikan yang memiliki kualifikasi tertentu sebagai seorang figur yang tentunya harus mampu menetapkan dan menerapkan strategi-strategi demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Sujarwo (2012: 6-7) menyebutkan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada jenjang pendidikan tinggi. Pendidik adalah suatu pekerjaan yang bersifat profesional, dalam arti suatu pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh individu yang secara khusus telah dipersiapkan. Sebagai tenaga profesional seorang pendidik mempunyai tugas dan peranan yang sangat kompleks, tidak terbatas pada saat berlangsungnya interaksi pembelajaran di dalam kelas, namun juga bertugas sebagai administrator, fasilitator, motivator, evaluator dan konselor. Menurut Glasser ada empat hal yang harus dikuasai seorang pendidik, yaitu: a) menguasai bahan pelajaran, b) kemampuan mendiagnosis tingkah laku peserta didik, c) kemampuan melaksanakan proses pembelajaran, d) kemampuan menyimpulkan hasil belajar. A teacher is a person who help others learn (seorang pendidik adalah seorang yang membantu belajar orang lain) kehadiran seorang pendidik dalam proses pembelajaran merupakan peran yang sangat penting dan tidak dapat digantikan oleh mesin, radio atau tape recorder,media, bahkan komputer yang paling canggihpun, karena dalam proses pembelajaran melibatkan unsur-unsur manusiawi seperti; sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, emosi, kebiasaan dan lain-lain yang kesemuanya merupakan sumber daya dan potensi pembelajaran. Tugas pokok seorang pendidik dalam proses pembelajaran, meliputi: a) menyusun program pembelajaran atau praktik, b) menyajikan program pembelajaran atau praktik, c) melaksanakan evaluasi belajar atau praktik, d) melaksanakan analisis hasil evaluasi belajar atau praktik, e) menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan, f) menyusun dan melaksnakan program bimbingan dan penyuluhan di kelas yang menjadi tanggungjawabnya, g) membimbing peserta didik dalam kegiatan kurikulum, h) membimbing pendidik dalam kegiatan proses pembelajaran atau praktik perorangan, i) melaksanakan bimbingan karier peserta didik, j) mengikuti kegiatan ujian. Dalam melaksanakan tugas pokoknya, seorang pendidik dipersyaratan memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, professional dan kompetensi sosial.
3.      Peserta Didik
Komponen pembelajaran selanjutnya yaitu peserta didik. Peserta didik dapat diartikan sebagai orang yang berperan di dalam kegiatan belajar, dengan kata lain peserta didik diposisikan sebagai subyek utama dalam proses pembelajaran. Menurut Sujarwo (2012: 6) peserta didik sebagai subyek yang mengalami dan merespons informasi dari pendidik dengan sikap dan aktivitas belajar. Perlu disadari bahwa setiap peserta didik memiliki kemampuan dan potensi yang terbaik bagi dirinya, potensi tersebut akan berkembang secara optimal bila diberi kesempatan. Masing-masing individu memiliki kemampuan dasar berbeda, sehingga pelayanan dalam pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan kemampuannya. Pola penyeragaman dalam pengelolaan peserta didik dalam pembelajaran mulai dikurangi, variasi pelayanan mulai dikembangkan, agar masing-masing potensi dapat berkembang secara optimal. Pada awalnya peserta didik belum menyadari pentingnya belajar, seiring dengan proses pembelajaran pembiasaan belajar melalui pemberian kesempatan pengalaman belajar.
Menurut Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pasal 1 butir 4 menyebutkan bahwa “peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan pendidikan tertentu”.
Mengacu pada penjelasan Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 tentang peserta didik, dapat dijabarkan lagi mengenai penyebutan peserta didik yang memiliki istilah-istilah sendiri sesuai lingkup pembelajaranya yaitu peserta didik untuk jenjang pendidikan dasar (SD) dan pendidikan menengah (SMP dan SMA) disebut siswa, untuk jenjang pendidikan tinggi (perguruan tinggi) disebut mahasiswa dan untuk kegiatan pendidikan & pelatihan (diklat) disebut peserta diklat. Selain itu, masih mengacu pada Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 tentang peserta didik dapat dijabarkan pula bahwa peserta didik merupakan individu-individu yang sedang mengembangkan segala potensi diri melalui proses pembelajaran. Hal ini mengandung arti bahwa pembelajaran merupakan proses yang secara sederhana peserta didik merupakan individu yang unik yang pada dasarnya telah memiliki kemampuan yang kemudian dikembangkan melalui proses pembelajaran sehingga potensi tersebut dapat berkembang.
Secara keseluruhan jelas bahwa peserta didik di dalam mengembangkan potensinya melalui proses pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan peserta didik yang dapat ditempuh melalui jalur, jenjang dan pendidikan tertentu. Perkembangan peserta didik diselaraskan dengan potensi yang hendak dikembangkan yang sesuai dengan umur peserta didik.
4.      Kurikulum
Sujarwo (2012: 7) mengemukakan bahwa kurikulum merupakan seperangkat rencana kegiatan pembelajaran yang berisi tujuan, materi pembelajaran, pembelajaran (metode/strategi), dan penilaian dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kurikulum dipandang sebagai semua pengalaman belajar yang diberikan pendidik kepada peserta didik selama mengikuti pendidikan di suatu lembaga pendidikan, atau segala usaha lembaga pendidikan yang menghasilkan lulusan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Materi pembelajaran di dalam kurikulum diartikan sebagai bahan yang hendak diajarkan kepada peserta didik, dengan kata lain materi pembelajaran merupakan bahan ajar yang terdiri dari pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dipelajari peserta didik sesuai dengan standard kompetensi yang telah ditetapkan. Secara garis besar materi pembelajaran selaras dengan pendapat Bloom melalui teori Taksonomi Bloom bahwa kemampuan yang harus dikuasai dan dimiliki oleh peserta didik terdiri dari kemampuan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan). Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat ditinjau dari 2 segi yaitu pendidik dan peserta didik. Materi pembelajaran dari segi pendidik merupakan bahan yang harus diajarkan oleh pendidik kepada peserta didik pada proses pembelajaran. Dari segi peserta didik, materi pembelajaran merupakan bahan yang harus dipelajari dengan tujuan pencapaian standard kompetensi dan kompetensi yang telah ditetapkan.
Menurut Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa “kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Sujarwo (2012: 8) Memperhatikan rumusan kurikulum di atas tersirat empat hal pokok, yakni (a) isi kurikulum, adalah mata pelajaran yang diberikan oleh lembaga pendidikan terhadap peserta didik; (b) tujuan kurikulum, yakni agar anak didik menguasai mata pelajaran tertentu yang kemudian disimbolkan dengan ijazah. (c) kurikulum aktivitas, kurikulum dipandang secara pentahapan pengalaman belajar yang dilakukan oleh pendidik, dan (4) kurikulum dipandang sebagai bentuk penilaian, kurikulum mengatur model, bentuk, dan jenis penilaian yang dilakukan. Para pendidik bertanggung jawab sepenuhnya dalam pelaksanaan kurikulum, baik secara keseluruhan kurikulum, maupun tugas sebagai penyampai bidang studi atau mata pelajaran yang telah dirancang dalam kurikulum. Pendidik harus berusaha agar penyampaian materi pembelajaran dapat berhasil secara maksimal. Sebagai pengelola kurikulum pendidik bertanggung jawab membuat perencanaan mengajar baik dalam bentuk perencanaan secara urut maupun dalam pembuatan model satuan pelajaran. Tugas dan tanggung jawab pendidik dalam hubungannya dengan kurikulum adalah menjabarkan dan mewujudkan kurikulum potensial menjadi kegiatan nyata di dalam kelas melalui proses pembelajaran. Implementasi kurikulum dalam pembelajaran merupakan proses penerapan ide, konsep, kebijakan sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai dan sikap. Implementasi kurikulum adalah proses penerapan ide, konsep dan kurikulum potensial dalam pembelajaran sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi sebagai hasil interaksi dengan lingkungan.
5.      Strategi
Strategi dapat diartikan sebagai pokok-pokok yang menjadi acuan untuk bertindak mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi menjadi komponen pembelajaran yang memiliki arti suatu rencana kegiatan pembelajaran yang dirancang dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran. Sujarwo (2012: 7-8) mengemukakan bahwa strategi merupakan suatu penataan mengenai cara mengelola, mengorganisasi dan menyampaikan sejumlah materi pembelajaran untuk dapat mewujudkan tujuan pembelajaran, sedangkan pembelajaran merupakan pengaturan informasi dan lingkungan sedemikian rupa sehingga memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri peserta didik. Dalam penyajian informasi tersebut terjadi interaksi, interelasi dan interdependensi di antara pendidik, peserta didik dan lingkungan belajar. Strategi pembelajaran dimaknai sebagai suatu strategi dalam mengelola secara sistematis kegiatan pembelajaran sehingga sasaran didik dapat mencapai isi pelajaran atau mencapai tujuan yang diharapkan.  Dick, Carey & Carey (2003: 1) menyebutkan lima komponen umum dari strategi instruksional sebagai berikut: 1) kegiatan pra instruksional, 2) penyajian informasi, 3) partisipasi peserta didik, 4) tes, dan 5) tindak lanjut. Sembilan urutan kegiatan instruksional, yaitu: 1) memberikan motivasi atau menarik perhatian, 2) menjelaskan tujuan instruksional kepada peserta didik, 3) mengingatkan kompetensi prasyarat, 4) memberi stimulus (masalah, topik, dan konsep, 5) memberikan petunjuk belajar, 6) menentukan penampilan peserta didik, 7) memberi umpan balik, 8) menilai penampilan, 9) menyimpulkan.
Strategi pembelajaran pada dasarnya harus menjadi kemampuan pendidik. Pendidik harus mampu di dalam merancang dan menerapkan strategi pembelajaran yang dirasa efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran. Di dalam merancang dan menerapkan strategi pembelajaran tentunya harus melihat pada aspek kesesuian pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan acuan kurikulum dan keterlibatan peserta didik.
6.      Media Pembelajaran
Media merupakan suatu alat, benda atau seperangkat komponen yang dapat digunakan sebagai sarana dalam menyampaikan informasi, pesan ataupun suatu hal sehingga informasi atau pesan tersebut dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan, yang pada intinya media berperan dalam mempermudah pekerjaan manusia. Gagne dan Briggs dalam Arsyad (2011: 4-5) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri antara lain buku, tape recorder, kaset video camera, video recorder, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televisi dan komputer. dengan kata lain, media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Di lain pihak, National Education Association memberikan definisi media sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visual dan peralatannya, dengan demikian, media dapat dimanupulasi, dilihat, didengar atau dibaca.
Sujarwo (2012: 10) mengatakan bahwa media dimaknai sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian dan kemauan peserta didik, sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri peserta didik. Media pembelajaran meliputi; media cetak dan media elektronik, media cetak meliputi: gambar, sketsa, kartun, diagram, chart, grafik, poster, sedangkan media elektronik meliputi: audio seperti: a) radio, tape, b) visual seperti: film, slide, film strip, film loop, epidioskop OHP, c) audio visual seperti: televisi, film suara. radio vision, slide suara, tape dan film suara.
7.      Evaluasi Pembelajaran
Sujarwo (2012: 10-11) mengatakan bahwa evaluasi berasal dari bahasa Inggris yang berarti penilaian atau penaksiran, sedangkan menurut pengertian istilah evaluasi adalah suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.
Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses atau kegiatan yang dilakukan secara sistematis, berkelanjutan dan dilakukan secara menyeluruh dengan tujuan penjaminan, pengendalian dan penetapan kualitas (nilai, makna dan arti) atas berbagai komponen pembelajaran berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu. Dalam Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar proses dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan poses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran.






DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers
Dick, W., Carey, L., & Carey, J.O. 2003. The Systemic Design of Instruction. New York : Harper Collins Publisher Inc.
Hermawan, A.H dkk. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
Peraturan Menteri No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses
Sujarwo. 2012. Model-model Pembelajaran: suatu strategi mengajar. Yogyakarta
Himpunan Peraturan Perundang-undangan. 2009. Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003. Bandung: Fokus Media
Reaksi:

2 komentar: