Kamis, 27 September 2012

Evaluasi Pembelajaran

Posted by Glendomi On Kamis, September 27, 2012 | No comments

Kehidupan kita sehari-hari tidak terlepas dari adanya kegiatan yang disebut evaluasi. Evaluasi, sebuah kata yang terkadang dipertukarartikan bahkan tak jarang disamaartikan dengan pengukuran dan penilaian. Padahal ketiga istilah tersebut mengandung arti yang berbeda satu dengan lainnya. Pengukuran, penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki yang mengandung artian bahwa ketiga kegiatan tersebut tidak dapat dipisahkan dan merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan secara berurutan. Untuk dapat memahami arti dari ketiga kegiatan tersebut kita harus mengetahui terlebih dahulu arti pengukuran, penilaian dan kemudian evaluasi. Penjabaran mengenai definisi ketiganya dapat dipaparkan sebagai berikut:
1. Pengukuran
Pengukuran merupakan kegiatan yang dilakukan dengan cara membandingkan suatu objek (benda/barang) dengan ukuran tertentu dan lebih bersifat kuantitatif terhadap suatu objek. Misalnya: mengukur tinggi tiang dengan satuan (cm).
Pengukuran di dalam pembelajaran memiliki makna yaitu proses membandingkan hasil belajar peserta didik dengan standard belajar yang telah ditetapkan.
2. Penilaian
Penilaian merupakan kegiatan memberikan nilai atau arti pada suatu objek (benda/barang) yang sebelumnya telah dilakukan pengumpulan dan pengolahan informasi terkait objek tersebut, misalnya: panjang-pendek, besar-kecil, tinggi-rendah, bagus-buruk.
Penilaian di dalam pembelajaran mengandung arti suatu proses pengumpulan informasi dan pengolahan informasi menjadi data yang akan menentukan kualitas (nilai atau arti) terhadap hasil belajar peserta didik.
3. Evaluasi
Evaluasi secara sederhana merupakan kegiatan yang meliputi kegiatan dari penilaian sampai pada pengukuran yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan dengan tujuan untuk menentukan keputusan atau kualitas (nilai dan arti)

Referensi:
Diambil dari berbagai sumber

Rabu, 26 September 2012

Peran Aktif Pemuda

Posted by Glendomi On Rabu, September 26, 2012 | No comments

Pemuda merupakan generasi yang penuh dengan semangat, generasi penerus dan generasi yang sangat identik dengan perubahan. Pemuda menunjukan dirinya sebagai generasi yang memiliki inisiatif-inisiatif di dalam membangun bangsa. Inisiatif tersebut dapat dilihat dari peran aktif pemuda sebagai kader bangsa yang berjuang dengan gagah berani membela bangsa sampai pada titik darah penghabisan. Hal ini dapat dilihat dari pemuda-pemuda yang telah mencoretkan namanya di dalam sejarah pada masa perjuangan melawan penjajah. Pemuda-pemuda itu adalah Ir. Soekarno, Muh. Hatta, Bung Tomo, Sultan Syahrir dan pemuda-pemuda lainnya.
Cerminan pemuda dapat dilihat dari adanya bentuk nasionalisme yang telah ditunjukan. Namun bagaimanakah peran pemuda saat ini yang telah melewati masa penjajahan dan pergolakan melawan penjajah?. Apakah sampai disini peran pemuda yang hanya dapat ditunjukan oleh pemuda-pemuda pada masa perjuangan? Dan rasa nasionalisme pemuda sekarang seolah-olah pudar ditelan oleh peradaban yang semakin maju dan canggih.
Peran aktif pemuda dewasa ini dapat ditunjukan melalui berbagai bentuk. Peran aktif pemuda dapat digambarkan sebagai berikut:
1.      Pemuda Sebagai Generasi Penerus Bangsa
Generasi penerus disini mengandung makna bahwa pemuda merupakan generasi yang mampu meneruskan nilai-nilai bangsa dan memegang teguh idealisme bangsa. Nilai tersebut harus tetap dijunjung tinggi oleh bangsa dengan bertolak pada kebenaran akan nilai-nilai yang menjadi idealisme bangsa dan bukan pada penguatan atas nilai-nilai yang hanya mementingkan unsur pragmatis semata, namun lebih kepada kebenaran yang mutlak.
Nilai-nilai yang harus tetap dijaga dan diteruskan oleh para pemuda adalah nilai-nilai yang luhur dan merupakan kepribadian bangsa. Nilai-nilai tersebut seperti kejujuran, keramahan dan kesigapan serta nilai-nilai lainnya.
2.      Pemuda Sebagai Generasi Pengganti
Pemuda merupakan generasi yang penuh dengan semangat baru dalam membangun bangsa. Hal ini merupakan pernyataan mutlak dan menjadi sesuatu yang dapat dipahami secara mudah bahwa pemuda adalah generasi pengganti. Generasi pengganti mengandung artian bahwa pemuda merupakan aset bagi terbentuknya generasi-generasi yang tangguh dengan berbagai kemampuan yang dimiliki. Kemampuan tersebut meliputi jiwa dan raga yang kuat dengan disertai akhlak mulia.
Pemuda sebagai generasi pengganti sudah seharusnya menggali segala ilmu dan menjadi manusia yang tangguh dalam profesionalitas serta kedekatan dengan masyarakat yang terus dibangun. Hal ini tentunya harus dilakukan secara berkesinambungan dengan terus mempelajari berbagai hal yang telah terjadi pada generasi sebelumnya dan menjadikannya sebagai bahan koreksi untuk membangun diri.
3.      Pemuda Sebagai Generasi Pembaharu
Pemuda adalah generasi dengan berbagai inisiatif dan sangat inovatif dalam membentuk segala sesuatunya. Pemuda sebagai generasi pembaharu dapat diartikan bahwa pemuda merupakan manusia-manusia yang menjadi agen dalam tercapainya perubahan-perubahan. Perubahan tersebut bersifat baru yang memiliki arti bahwa perubahan itu adalah perubahan dalam mengatasi berbagai persoalan menyangkut masyarakat sampai pada bangsa ini.
Pembaharu bangsa adalah pemuda yang terus berkontribusi dalam menciptakan perubahan-perubahan menuju bangsa yang adil, makmur dan sejahtera. Perubahan yang dilakukan pemuda bertolak pada ideologi yang benar.
4.      Pemuda Sebagai Semangat Bangsa
Sebuah pepatah mengatakan bahwa semangat akan bangkit dari generasi-generasi baru. Generasi baru tersebut adalah pemuda yang dengan gagah berani telah menunjukan dan memberikan pengaruh kuat dalam mengobarkan semangat kebangsaan. Semangat bangsa yang lahir dari pemuda merupakan wujud dari kemampuan yang diusung para pemuda. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan fisik yang tergolong muda dan kuat, kemampuan intelektual yang terus berkembang dan terbuka dengan hal-hal baru serta yang paling dominan adalah kemampuan emosional dalam membangkitkan semangat baru.

Reverensi :
Nur Istiqomah, Gita.(2010). Makalah Peran Pemuda, Permasalahan dan Tantangannya. Sulawesi Utara
Catatan perkuliahan Pendidikan Kepemudaan tahun 2012

Senin, 24 September 2012

Belajar tempo dulu vs sekarang

Posted by Glendomi On Senin, September 24, 2012 | No comments

Belajar merupakan suatu proses, begitu kata beberapa pakar menyebutkan yang pada intinya bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku akibat dari adanya interaksi pembelajar (orang yang belajar) dengan lingkungannya. Belajar bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan dalam kondisi seperti apapun.

Menyinggung bahwa belajar bisa dilakukan dimana saja, kapan saja dan dalam kondisi seperti apapun pada dasarnya sudah dibuktikan kebenarannya. Mengapa demikian?. Hal ini dibuktikan pada konsep belajar tempo dulu yang meskipun dalam kondisi yang serba minim (kekurangan), baik itu fasilitas (sarana & prasarana belajar) maupun kondisi fisik si pembelajar. Belajar tempo dulu banyak dilakukan dalam gelapnya ruangan yang hanya disandingkan sebuah teplok (lampu minyak). Belajar tempo dulu terjadi di pembelajar harus mencari sesuap nasi (bekerja) dengan membawa buku catatan yang diperolehnya dari bangku sekolah. Belajar tempo dulu dilakukan pada kondisi fisik yang tidak begitu sehat karena harus belajar di sekolah pada pagi hingga siang hari kemudian dilanjutkan bekerja di sawah misalnya sampai petang kemudian seusai itu pulang dan harus membantu orang tua di rumah. Kondisi, waktu dan tempat itulah yang digunakan pembelajar untuk terus belajar mencari ilmu.

Sekarang bandingkan dengan konsep belajar pada masa sekarang. Teori – teori mengenai belajar banyak bermunculan yang kurang lebih banyak disampaikan bahwa kegiatan belajar harus dapat dilakukan dengan senyaman mungkin, fasilitas belajar harus dipenuhi sebaik mungkin dan lain sebagainya. Pada intinya konsep belajar masa sekarang lebih mengarahkan bahwa belajar bisa dapat diraih jika berbagai fasilitas yang baik, kondisi belajar yang nyaman dan kesehatan yang mendukung dapat dipenuhi sebelumnya. Hal ini tentu bertolak belakang dengan apa yang terjadi pada tempo dulu yang meskipun serba kekurangan dengan berbagai keterbatasan namun bisa memacu semangat dan terus giat dalam belajar. Hasilnya pun tidak main-main, dari berbagai kekurangan dan keterbatasan maka menjadikan hal itu sebagai tempaan diri menuju kesuksesan. Hal ini dibuktikan dari berbagai tokoh kampung (daerah) yang mampu melejit dengan kesuksesan yang diraihnya.

Namun bukan berarti teori atau konsep belajar yang ada sekarang ini salah. Penulis hanya mengajak dan mengarahkan mengenai bagaimana dengan adanya konsep belajar sekarang yang dapat dikatakan lebih baik dari segi kondisi belajar dan fasilitas belajar akan lebih mampu menjadikan generasi-generasi penerus bangsa ini lebih baik lagi. Dan tentunya dengan konsep belajar yang diusung sekarang ini bukan menjadikan generasi muda terlena dan menganggap nyaman kondisi belajar yang ada, namun harus menjadi bahan dalam mencari ilmu dan perubahan diri menuju generasi yang unggul. Harapan yang menjadi cita-cita semua orang adalah bangsa ini menjadi bangsa yang maju dengan generasi-generasi yang mampu memanfaatkan fasilitas belajar yang ada dengan baik dan bijak yang kemudian mampu juga dalam mengamalkan segala ilmu dari hasil belajar tersebut pada diri sendiri, orang lain dan tentunya bangsa ini.(Fatchan)