Kamis, 01 Maret 2012

Isi Sama, Tapi “Label” Beda

Posted by Glendomi On Kamis, Maret 01, 2012 | No comments

Isi sama “Label” beda merupakan cerminan nyata dari adanya praktik yang terjadi di lapangan. Praktik tersebut berkaitan erat dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan yang terdapat di masyarakat. Katakan saja sebuah lembaga atau perkumpulan masyarakat yang mengatasnamakan sebagai rumah belajar atau pusat belajar atau apapun yang menyerupai itu. Berbagai istilah atau “label” yang disandang merupakan bentuk merk dagang yang sekarang gencar disuarakan namun tak banyak orang yang mengetahui dan merasakan fenomena tersebut. Lembaga atau perkumpulan tersebut terkadang menggunakan istilah yang cukup menjual dengan dipayungi oleh lebih dari satu payung hukum untuk mendapatkan bantuan, namun dengan lokasi/tempat/kelembagaan yang sama. Terbukti trik ini ampuh untuk meraup berbagai bantuan dan kucuran dana yang mengalir deras akan turun seiring dengan pengajuan proposal bantuan.

Praktik semacam ini pada dasarnya melanggar peraturan yang ada, namun apa boleh dikata, menjamurnya praktik semacam ini seolah-olah menjadi hal yang biasa untuk terus dilakukan. Entah apa yang ada dibenak para pengelola lembaga atau perkumpulan yang mengatasnamakan sebagai gerakan masyarakat bahkan sebagai bentuk pendidikan dalam masyarakat sehingga mendorong untuk melakukan praktik-praktik semacam itu. Namun yang pasti masih ada dalam benak mereka untuk terus menyuarakan dan memperjuangkan pendidikan, khususnya pendidikan yang terdapat di masyarakat.

Penggunaan label atau merk dagang yang menjual memang perlu untuk dilakukan guna pengenalan lebih jauh mengenai lembaga atau perkumpulan yang bersangkutan dan nantinya akan berdampak pada eksistensi lembaga atau perkumpulan tersebut. Namun yang perlu digaris bawahi jangan sampai menyalahi aturan main dalam pengelolaan kelembagaan atau perkumpulan dan pada dasarnya masih banyak kesempatan / peluang lebih banyak untuk mengembangkan lembaga atau perkumpulan dengan cara-cara yang lebih bijak tanpa harus menggunakan “trik-trik busuk” untuk mengelabui pemberi bantuan.

Semoga kedepannya masyarakat Indonesia yang sadar akan pendidikan lebih tanggap lagi dengan fenomena semacam ini dan pendidikan Indonesia lebih berkualitas dengan bentukan pendidikan berbasis masyarakat. 


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar