Senin, 13 Februari 2012

Teori Kritis Pendidikan

Posted by Glendomi On Senin, Februari 13, 2012 | No comments

Teori kritis pendidikan merupakan suatu konsep yang mengkaji tentang teori dan praktik pendidikan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan (humanis) secara kritis. Terdapat suatu hal yang menjadi perhatian khusus dalam kaitannya dengan pendidikan yang masih dirasa belum memanusiakan manusia. Pendidikan masih dipandang sebagai suatu wadah pengolahan, sama halnya suatu pabrik yang mengolah bahan mentah kemudian menjadi barang jadi melalui proses input sampai dengan output. Pendidikan yang demikian pada praktiknya hanya merusak kebebasan anak didik dan tidak memerdekakan mereka sebagaimana subyek aktif dalam pendidikan itu sendiri.

Freire dalam kritikannya menyoroti mengenai praktik pendidikan yang bersifat menindas yang mematikan kemerdekaan dan jiwa kreativitas anak. Pendidikan yang demikian merupakan cerminan pendidikan gaya bank yang hanya memandang bahwa peserta didik merupakan bejana kosong yang lantas diisi oleh guru. Peserta didik diletakkan pada posisi obyek pasif (penerima) sedangkan guru memposisikan dirinya sebagai pemberi pengetahuan. Konsep pendidikan tersebut telah terlihat adanya pola komunikasi satu arah (anti-dialog) yang membelenggu kreativitas anak. Pendidikan yang semestinya dilakukan adalah dengan menggunakan suatu sistem dialogis di dalam praktiknya, peserta didik ditempatkan sebagai suatu subyek aktif dalam pendidikan yang memiliki kebebasan. Pendidikan yang semestinya tidak lagi sebagai praktik yang membelenggu kemerdekaan anak dan kreativitas anak melainkan sebagai suatu praktik yang dapat memfasilitasi anak dalam berkarya dan membentuk komunikasi dialogis. Komunikasi dialogis terbentuk dari adanya beberapa faktor yang mendasari yaitu kecintaan, kerendahan hati, kepercayaan pada manusia (orang lain), adanya harapan, dan berpikir kritis.

Kaitan teori kritis pendidikan dengan dunia Pendidikan Non Formal (PNF) terlihat jelas bahwa teori kritis membawa suatu konsep mengenai bukan sekadar dorongan-dorongan dalam usahanya membentuk pendidikan yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan (humanis) tetapi juga berkembang dalam suatu pola praktik pendidikan yang lebih memperjuangkan kemerdekaan anak dan kreativitas anak. Pendidikan bukan sekadar pola pengisian / pemolesan pengetahuan dari pendidik kepada anak didik yang bersifat satu arah (anti-dialog), melainkan suatu pola komunikasi yang dialogis. Teori kritis pendidikan menjadi suatu hal yang menarik bagi para penggelut dunia pendidikan khususnya pada Pendidikan Luar Sekolah (PLS) dimana menjadi tonggak bukan sekadar konsep tetapi juga pola praktik di dalam pendidikan.

Refleksi Teori Kritis Pendidikan bagi Mahasiswa PLS
Teori kritis pendidikan bagi mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah (PLS) merupakan suatu konsep dan pola menarik yang ke depannya dapat diterapkan dalam usahanya mewujudkan pendidikan yang tidak lagi membelenggu kebebasan anak tetapi lebih pada mendorong anak untuk menunjukan dan mengembangkan segala potensi yang dimiliki anak didik. Mahasiswa PLS dengan penanaman nilai-nilai kekritisan mengenai dunia pendidikan nantinya akan menjadikan bekal penerapan pada bidang-bidang PLS seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), keaksaraan, pendidikan kecakapan hidup, pemberdayaan (perempuan dan masyarakat), pendidikan berkelanjutan, dan kepemudaan. Berbagai bidang PLS tersebut tentunya sangat mengedepankan konsep dan pola pendidikan yang mengarah pada pengembangan peserta didik atas segala potensi-potensi yang dimiliki, tanpa adanya teori yang mengarahkan pada konsep dan pola yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan (humanis) maka akan dipastikan pengembangan peserta didik tidak akan tercapai. Oleh karena itu, dengan adanya teori kritis pendidikan maka mahasiswa PLS diharapkan di dalam penerapan pada berbagai bidang PLS tersebut akan mampu mengembangkan potensi peserta didik dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan (humanis), sehingga keberhasilan dalam pencapaian pengembangan peserta didik dan tujuan-tujuan pendidikan khususnya Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) akan tercapai. (Fatchan Chasani)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar