Rabu, 22 Februari 2012

Usia Dini, Usia untuk Bermain

Posted by Glendomi On Rabu, Februari 22, 2012 | No comments

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Lydia Freyani Hawadi menegaskan, pelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung) bukan diperuntukan untuk anak usia dini, karena pembelajaran di usia itu lebih banyak pada aspek bermain.

“Justru guru sekolah dasar (SD) lah yang harus bekerja keras memberikan pelajaran membaca,” katanya di Jakarta, Jumat (17/2).

Calistung, tambah Lydia Freyani Hawadi, bisa diberikan tapi bukan secara formal. Pada anak usia dini, pelajaran membaca dan berhitung itu hanya bisa diberikan sambil bermain.

Lidya juga menyatakan, pada usia dini, pembelajaran yang penting untuk disampaikan adalah penanaman budaya. “Yang paling perlu ditekankan adalah pengembangan budaya bersih maupun budaya disiplin,” ujarnya.

Budaya bersih sangat penting bagi anak usia dini untuk mengetahui bagaimana cara hidup bersih, seperti cara membuang sampah ataupun membersihkan tangan. Sementara budaya disiplin perlu dilakukan sejak dini karena berkaitan dengan kesiapan anak menghargai orang lain. (Sugito/Humpeg)

Minggu, 19 Februari 2012

Bermain Adalah Belajar

Posted by Glendomi On Minggu, Februari 19, 2012 | No comments

Belajar pada dasarnya merupakan proses yang terbentuk pada diri seseorang dari hasil interaksi baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia yang menuju pada perubahan tingkah laku. Belajar identik dengan proses memperoleh dan mendapatkan pengetahuan atau ilmu. Tak sedikit orang yang beranggapan bahwa belajar merupakan proses dari ketidaktahuan akan suatu hal menjadi tahu atau paham akan suatu hal tersebut. Belajar pada hubungannya dengan bermain sering diperbincangkan oleh banyak orang sebagai dua kata yang memiliki makna kontras. Bermain identik pada kegiatan yang dapat memberikan rasa senang dan kegiatan tersebut merupakan bentuk yang menjadi kesukaan, namun dalam bermain terjadi pencapaian kepuasan yang hanya sesaat. Anggapan bermain tersebut bagi beberapa orang membawa pada terpecahnya makna belajar dan bermain yang menimbulkan sekat antara belajar dan bermain.

Bagi kebanyakan orang tua menganggap bahwa anak sebaiknya memiliki porsi belajar yang lebih tinggi dari pada porsi bermain. Hal ini mengakibatkan berkurangnya porsi bermain pada anak yang telah tergantikan dengan porsi belajar. Anggapan beberapa orang tua tersebut berlandaskan bahwa belajar merupakan bekal kelak sang anak mencapai cita-cita dan bermain hanya sebagai penghambat meraih cita-cita tersebut. Dalam arti yang lebih sederhana dapat disimpulkan oleh beberapa orang tua bahwa belajar lebih baik dari pada bermain. Pada segi anak yang menerima perlakuan demikian tentunya tidak mampu berkata untuk menolak, sehingga dalam diri sang anak akan tertanam konsep belajar lebih baik dari pada bermain.

Tak hanya beberapa orang tua yang berpandangan negatif terhadap bermain, namun beberapa pendidik juga berpandangan demikian. Hal ini tercermin pada pembelajaran yang kerap kali dilakukan oleh pendidik dengan menghadirkan konsep dan pola belajar yang sebenarnya, dalam artian tidak mempedulikan konsep bermain atas belajar. Sebagian pendidik lebih senang dan bangga apabila di dalam ruang kelas para peserta didik tekun dalam belajar dengan memperhatikan penjelasan pendidik dan sering membaca buku serta tidak menimbulkan suara gaduh atau ramai. Padahal dalam bermain terjadi proses pembentukan pemahaman mengenai suatu hal dan pengalaman dalam diri anak yang sebenarnya jika anak difasilitasi untuk bermain maka akan terbentuk suatu daya kreatifitas dan daya imajinatif dalam diri sang anak.

Bermain bukan lagi suatu kegiatan tanpa makna, melainkan suatu kegiatan yang mampu merangsang anak dalam mengembangkan dirinya. Pemberian fasilitas untuk bermain juga harus dimengerti sebagai proses dalam mengembangkan pemahaman dan pengalaman sang anak, bukan sebagai kegiatan menyenangkan hati sang anak atau mencegah anak menangis. Pemberian fasilitas bermain seyogyanya dilakukan dengan berbagai permainan yang bermakna, sehingga anak akan terangsang terhadap makna permainan itu sendiri yang merupakan penjelasan akan suatu hal. Misalnya permainan bermain peran mengenai profesi, dalam permainan tersebut anak akan dirangsang untuk menjadi seseorang contohnya polisi, dokter, guru, pilot dan lain-lain, kemudian anak akan berusaha memahami dan melakukan bagaimana peran masing-masing profesi tersebut.

Berdasarkan pengertian mengenai bermain maka sudah tidak bisa terbantahkan lagi bahwa di dalam kegiatan bermain terjadi proses belajar. Oleh karena itu, seyogyanya sebagai orang tua bahkan pendidik mampu memfasilitasi anak dalam hal bermain karena bermain merupakan dunia anak yang tidak akan tergantikan pada waktu anak itu sudah dewasa. (Fatchan Chasani)

Sumber gambar: 

Sabtu, 18 Februari 2012

Pentingnya PAUD dalam Membangun Masa Depan Bangsa

Posted by Glendomi On Sabtu, Februari 18, 2012 | No comments

Pendidikan sebagai suatu aspek yang ke depannya akan menemui suatu perubahan atas perkembagan zaman atau globalisasi harus dibentuk sedini mungkin yang menyangkut sumber daya di dalam pendidikan. Peserta didik merupakan sumber daya yang harus dikembangkan segala potensinya melalui pendidikan. Potensi yang dikembangkan menitikberatkan pada intelegensi dan karakter. Hal ini bertujuan untuk membentuk peserta didik yang tangguh dan siap menghadapi masa depan serta dalam ranggka membangun bangsa.

Sebagai upaya dalam membangun masa depan maka Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai pendidikan awal yang memuat berbagai aspek baik dalam membentuk intelegensi sampai membentuk karakter tentunya sangatlah tepat untuk ditumbuhkembangkan. Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara menyeluruh, yang mencakup aspek fisik, dan non fisik, dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan jasmani, rohani (moral dan spritual), motorik, akal-pikiran, emosional, dan sosial yang tepat dan benar agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Upaya yang dilakukan mencakup stimulasi intelektual, pemeliharaan kesehatan, pemberian nutrisi, dan penyediaan kesempatan-kesempatan yang luas untuk mengeksplorasi dan belajar secara aktif.

Pendidikan anak usia dini merupakan strategi pembangunan sumber daya manusia harus dipandang sebagai titik sentral mengingat pembentukan karakter bangsa dan kehandalan SDM ditentukan bagaimana penanaman sejak anak usia dini. Pentingnya pendidikan pada masa ini sehingga sering disebut dengan masa usia emas (the golden age). Pembangunan anak usia dini melalui pendidikan anak usia dini dibentuk melalui berbagai layanan seperti KB, TK, TPA, RA bahkan berusaha disinergikan melalui posyandu dan BKB yang merupakan usaha di dalam menanamkan nilai-nilai, perkembangan mulai dari jasmani sampai rohani serta dalam mengembangkan intelektual anak usia dini. Akan tetapi dalam kenyataannya layanan-layanan PAUD ini belum merata dan belum dapat disinergikan serta diintegrasikan secara menyeluruh pada masyarakat. Hal ini memunculkan perhatian dari dunia internasional melalui berbagai perundingan yang pada intinya akan berusaha memperbaiki layanan, mempersiapkan sumber daya yang berkualitas serta sampai pada usaha dalam meningkatkan pemerataan dalam kehidupan masyarakat. Bersamaan respon baik dari dunia internasional mengenai perhatiannya serta usahanya dalam membentuk pendidikan anak usia dini yang unggul maka hal inilah yang menjadi tonggak di dalam dunia pendidikan yang secara tersirat mengungkapkan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan suatu tahap penting di dalam menyongsong masa depan bangsa.


Sumber gambar: http://h4ti3fa.student.umm.ac.id/files/2011/08/ANAK.jpg

Kamis, 16 Februari 2012

Perjuangan Demi Pendidikan Untuk Semua

Posted by Glendomi On Kamis, Februari 16, 2012 | No comments

pendidikan-untuk-semuaPerjuangan erat kaitannya dengan pengorbanan yang diberikan seseorang dalam meraih tujuan atau sesuatu. Dalam meraih sesuatu tersebut tidak sertamerta mulus tanpa adanya hambatan, namun ini yang terjadi justru banyak sekali hal-hal di luar dugaan yang menjadi penghambat dalam jalan meraih tujuan itu. Hal inilah yang dirasakan oleh para pemerhati pendidikan yang sehari-hari berjuang dalam menegakkan pendidikan bagi semua. Banyak para kalangan khususnya pemerhati pendidikan yang secara langsung benar-benar merelakan dan memberikan sebagian hidupnya untuk memperjuangkan pendidikan. Bentuk dari perjuangan tersebut tercermin dalam sumbangsih memberikan tenaga, pikiran dan harta yang tak sedikit dari para pemerhati pendidikan yang harus rela meluangkan waktunya untuk tak sekadar berangan-angan mengenai pendidikan yang maju bagi seluruh masyarakat.

Pandidikan bagi semua merupakan salah satu bentuk pemenuhan pendidikan dan penciptaan pendidikan dengan sasaran bagi seluruh masyarakat yang biasanya dimulai dari pendidikan anak usia dini sampai pada pendidikan orang dewasa. Namun, tidak semua masyarakat dapat mengenyam jenjang pendidikan itu semua karena masih banyak masyarakat kita yang belum mampu untuk menjadikan pendidikan sebagai upaya mereka meraih cita-cita. Bentuk ketidakmampuan masyarakat banyak sekali dipengaruhi oleh beberapa faktor meliputi ekonomi rendah yang menyebabkan tidak mampu dalam segi biaya karena pendidikan yang semakin mahal, belum mampu menerima adanya perubahan global yang menuntut manusia untuk semakin kompleks sehingga kesadaran akan pentingnya pendidikan masih rendah, dan budaya instan masyarakat yang serba mengutamakan kepraktisan sehingga menjadikan ketidakmampuan masyarakat menerima pendidikan yang berproses. Oleh karena itu, penyadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan menjadi mutlak dilakukan dengan disertai juga pembentukan pendidikan alternatif sebagai bentuk pendidikan yang tidak terlalu membebani masyarakat dari segi biaya.

Pada perkembangannya, perjuangan demi tercapainya pendidikan untuk semua telah sedikit-banyak telah dilaksanakan oleh beberapa masyarakat kita. Salah satu wujudnya terlihat dari berbagai perkumpulan ataupun komunitas yang mengatasnamakan dirinya sebagai penggerak pendidikan. Bentuk-bentuk kegiatan dalam perkumpulan/ komunitas tersebut tercermin melalui kegiatan kemasyarakatan mulai dari pembentukan pendidikan bagi anak usia dini sampai pada pemberdayaan masyarakat yang di dalamnya terkemas pola pelatihan dan pendidikan keterampilan. Perkumpulan/ komunitas tersebut terbentuk dan berkegiatan dengan berbagai dorongan/ dukungan yang sebagian besar mengalir dari masyarakat tersebut dengan sebagian besar dana/ biaya berasal dari swadaya masyarakat bahkan adapula yang benar-benar murni dari salah seorang penggerak masyarakat yang peduli akan pentingnya pendidikan dengan membangun sarana belajar masyarakat. Oleh karena itu, marilah kita sebagai generasi yang penuh dengan kesadaran tinggi akan pentingnya pendidikan mulailah dari sekarang, dari hal kecil yang nantinya menjadi besar dan dari pergerakan yang dimulai saat ini kita bangun generasi-generasi unggul melalui pendidikan untuk semua.


Sumber Gambar: http://mjeducation.co/wp-content/uploads/2012/01/41950307b3qwb05.jpg

Obrolan Hangat Kian Memanas di PKBM Griya Mandiri

Posted by Glendomi On Kamis, Februari 16, 2012 | No comments

Kamis, 9 Februari 2012 masih bertempat yang sama yaitu di PKBM Griya Mandiri telah diadakan pertemuan yang kedua yang merupakan serangkaian dari pertemuan yang membahas mengenai berbagai persoalan menyangkut PKBM, khususnya mengenai permasalahan program Kejar Paket. Siang itu sekitar pukul 13.00 WIB berkumpul beberapa orang yang sama dengan misi mengkaji program Kejar Paket yang dalam kesempatan itu telah dipaparkan oleh bapak Fauzi mengenai penghitungan beban belajar Paket C yang nantinya akan terbentuk penyusunan RPP dan silabus.

Bapak Fauzi dengan pemaparannya melalui slide power point menjelaskan mengenai dasar penghitungan beban belajar dinyatakan dalam SKK (Satuan Kredit Kompetensi) yang dalam pelaksanaannya lebih fleksibel, hal ini dilandaskan karena dalam Kejar Paket C tidak ditemui adanya pola kelas seperti yang terdapat pada pendidikan formal, namun hanya ada tingkatan. Tingkatan tersebut terbagi menjadi 2 (dua) beban belajar untuk setara kelas X dan setara kelas XI-XII pada pendidikan formal. Lebih lanjut lagi pertemuan kali ini membahas mengenai beban belajar pada PKBM Griya Mandiri dan juga PKBM Wiratama. Pembahasan mengenai beban belajar Kejar Paket pada kedua PKBM tersebut dilakukan dengan berkelompok yang kemudian dipresentasikan dan menghasilkan bahwa secara keseluruhan belum memenuhi SKK yang sudah ditetapkan. Program Kejar Paket harus memenuhi SKK minimum yang telah ditetapkan dengan beban belajar 20 SKK/semester untuk setara kelas X dan 21 SKK/semester untuk setara kelas XI-XII. Pemerolehan SKK sebagai bentuk kompetensi yang harus dimiliki peserta didik dalam mengikuti pembelajaran dapat dilakukan melalui tatap muka, tutorial dan mandiri. Ditambahkan pula oleh Bapak Agus selaku penilik dari Dinas Pendidikan bahwa untuk mendapatkan pengakuan atau akreditasi harus termuat standard SKK yang telah ditetapkan.

Harapan pada pertemuan ketiga nanti yang juga merupakan pertemuan terakhir terkait pembahasan mengenai Program Kejar Paket C yaitu yang paling utama akan terbentuk beban belajar dengan berbagai aspek di dalamnya yang meliputi pembagian kompetensi yang harus dimiliki peserta didik dalam pembelajaran melalui tatap muka, tutorial dan mandiri. (Fatchan Chasani)

SEMASA Untuk Negeri

Posted by Glendomi On Kamis, Februari 16, 2012 | No comments

Rabu, 8 Februari 2012 sekitar pukul 20.00 WIB bertempat di rumah bapak Agung Kurniawan yang merupakan salah satu penggerak SEMASA (Sekolah Masyarakat Desa) mengadakan agenda evaluasi bersama seluruh pihak dari SEMASA yang meliputi pendidik PAUD, penggerak SEMASA dan beberapa mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Negeri Yogyakarta yang dihadiri oleh Panduwati, Havissah dyah A, Wijayanti, Ratnasari Purba dan Moch. Fatchan Chasani. Pertemuan tersebut sengaja dilaksanakan guna membahas mengenai berbagai aspek meliputi kendala, masalah dan pengembangan menyangkut dengan PAUD. Pihak-pihak yang hadir pada pertemuan malam itu berusaha menganalisis berbagai aspek tersebut yang merupakan bahan evaluasi melalui metode curah pendapat dan saling berbagi pengalaman.

Pendidik-pendidik PAUD yang memang tergolong baru dalam menggeluti dunia PAUD menyadari akan adanya berbagai masalah. Masalah yang menjadikan kendala diungkapkan oleh para pendidik PAUD yaitu menyangkut pembelajaran, susunan materi/menu belajar dan menyangkut pola asuh anak. Masalah tersebut merupakan masalah inti yang kurang-lebih telah diungkapkan dan menjadi bahan kajian untuk dilakukan pemecahan. Sedikit usaha pemecahan atas masalah-masalah tersebut telah tertuang melalui curah pendapat dan saling berbagi pengalaman.

Perjuangan akan hak untuk memperoleh pendidikan mulai dari usia dini memang nampak pada SEMASA ini, meskipun penggerak-penggerak dan pendidik-pendidik PAUD tersebut sangat jauh dari latar belakangnya sebagai seorang pendidik PAUD. Hal ini menunjukan semangat dan bentuk kerja nyata dari kegigihan untuk terus mewujudkan serta memperjuangkan pendidikan untuk seluruh masyarakat. Mereka meyakini bahwa meskipun tidak mengetahui secara pasti mengenai pendidikan namun yang perlu dipahami untuk menjadi contoh adalah semangat dan kesungguhan untuk memperjuangkan pendidikan itu sendiri.

Penerjunan Perdana di SKB Bantul

Posted by Glendomi On Kamis, Februari 16, 2012 | No comments

Senin, 6 Februari 2012 sekelompok mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Negeri Yogyakarta meluncur menuju SKB Bantul dengan mengemban misi melaksanakan observasi perdana KKN-PPL. Penerjunan pertama ini merupakan bentuk dari serangkaian kegiatan KKN-PPL jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Negeri Yogyakarta. Pada lembaga tersebut telah ditetapkan dua puluh satu (21) mahasiswa PLS UNY yang akan melaksanakan kegiatan KKN-PPL, namun pada kesempatan kali ini hanya dihadiri oleh dua puluh (20) mahasiswa.

Penerjunan perdana di SKB Bantul dimulai dengan acara serah terima mahasiswa PLS UNY yang diwakili oleh bapak R.B. Suharta, M.Pd selaku Dosen Pembimbing yang kemudian IbuDwi Suwarniningsih selaku Kepala SKB Bantul sebagai penerima. Acara serah terima tersebut dibuka pertama kali oleh Ibu Dewi Usmawati selaku pembawa acara. Acara penerimaan KKN-PPL di SKB Bantul diwarnai dengan perkenalan dari seluruh mahasiswa dan juga seluruh pengelola SKB mulai dari Pamong sampai pegawai Tata Usaha (TU) yang kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai berbagai program yang ada di SKB Bantul. Acara penerimaan mahasiswa PLS UNY terus berlanjut pada sesi pembagian kelompok untuk PPL menjadi 2 kelompok, hal ini dilakukan melihat dari banyaknya peserta KKN-PPL di SKB Bantul pada tahun ini yang mencapai 21 mahasiswa.

Kesan yang tertangkap dan terekam di SKB Bantul adalah "Senyum, Sapa dan salam". Tiga kata singkat yang sarat akan makna tersebut merupakan pegangan teguh di SKB Bantul yang menjadikan suasana hangat nan akrab. Harapan dari semua pihak yang turut andil dalam pelaksanaan KKN-PPL jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Negeri Yogyakarta di SKB Bantul yang akan dilaksanakan sekitar bulan Juli-September 2012 adalah terciptanya suasana yang kondusif, akrab dan penuh semangat seperti yang telah ditunjukan pada pertemuan pertama ini. Semoga semua itu dapat terpelihara dengan baik dan bukan hanya pada permulaan saja.

Selasa, 14 Februari 2012

Komunitas PLS 09 Bikin Outbound Lagi

Posted by Glendomi On Selasa, Februari 14, 2012 | No comments

Agenda outbound bersama anak-anak Gunung Kidul tepatnya di Dusun Jeruksari pada tanggal 28-29 Januari 2012 yang lalu telah usai.Outbound di Gunung Kidul tersebut terlaksana atas kerjasama antara pemuda-pemuda Dusun Jeruksari dengan Komunitas Pendidikan Luar Sekolah (PLS) 09. Acara tersebut terlaksana cukup sukses yang dikemas untuk kelompok sasaran anak-anak dengan usia Sekolah Dasar (SD).

Kini, aksi selanjutnya direncanakan akan diadakan kerjasama lagi dengan pemuda-pemuda dari Dusun Randugunting yang digawangi oleh Ayu Sekar Melati dengan konsep yang masih sama yaitu Outbound,namun dengan kemasan yang tentunya berbeda dengan kelompok sasaran usia sekitar 16 tahun ke atas. Hari Minggu ini tanggal 5 Februari 2012 telah dilakukan survei lokasi outbound di Nglanggeran yang merupakan tahap pertama yang dilaksanakan oleh Ahmad Rofiq, Dewi Arum, Garindra dan Ayu Sekar Melati selaku Komunitas PLS 09.


Kegiatan outbound tersebut diakui oleh Ayu Sekar Melati yang sekaligus pintu gerbang terjalinnya kerjasama dengan pemuda Dusun Randugunting bahwa akan diadakan observasi atau survei tahap kedua pada hari sabtu, 11 Februari 2012 sedangkan pelaksanaan outbound tersebut diakuinya akan dilaksanakan sekitar bulan ke-3.

Outbound sebagai suatu konsep merupakan dasar yang menjadi pijakan dalam kegiatan yang dilakukan di alam terbuka dengan berbagai pola permainan (games) yang memiliki makna tertentu sesuai dengan tujuan kegiatan yang tentunyagames tersebut telah disesuaikan dengan kelompok sasaran. Outbound banyak digunakan dalam berbagai kegiatan karena dianggap lebih representative dalam mewakili maksud dan tujuan kegiatan.

Agenda dari Komunitas PLS 09 yang lagi-lagi akan terjun dalam kegiatan outbound semoga tidak memunculkan kebosanan, namun akan menjadi pembelajaran tersendiri dalam memperkuat dan memperkaya wawasan. Semoga rencana yang akan datang ini dengan tema yang sama namun dengan kemasan berbeda akan lancar dan sukses. Amin.

Sumber Gambar: http://designosophy.com/wp-content/uploads/2009/05/teamwork4.jpg

Obrolan Hangat di PKBM Griya Mandiri

Posted by Glendomi On Selasa, Februari 14, 2012 | No comments

Jumat, 3 Februari 2012 tepat di PKBM Griya Mandiri terjadi pertemuan pengelola PKBM yang digawangi oleh Ibu Endang Rochjiani sebagai Kepala PKBM Griya Mandiri yang didampingi oleh Bapak Fauzi selaku pamong dari BPKB DIY dan bapak Agus Wahib selaku penilik pendidikan kesetaraan dan keaksaraan serta mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Negeri Yogyakarta. Pertemuan ini terjadi akibat adanya permasalahan menyangkut kualitas pendidikan kesetaraan yang terdapat di PKBM tersebut yang secara langsung dirasakan oleh Ibu Endang Rochjiani. Permasalahan tersebut menyangkut motivasi belajar peserta didik yang rendah, budaya instan peserta didik yang mengingkinkan ijazah tanpa ada proses belajar dan masalah pembelajaran yang belum sesuai dengan standar isi dan proses.

Pertemuan ini merupakan awal dalam membahas langkah-langkah selanjutnya demi tercapainya penyelesaian atas masalah tersebut. Pada pertemuan perdana ini membahas atau mengkaji mengenai berbagai persoalan menyangkut pendidikan kesetaraan kejar paket C kemudian dianalisis yang pada akhirnya akan dibahas lagi mengenai metoda atau teknik penyelesaiannya pada pertemuan selanjutnya. Agenda pertemuan berikutnya direncanakan akan dilaksanakan 1 minggu setelah pertemuan perdana ini.
Harapan adanya pertemuan ini adalah akan tercapainya penyelesaian terhadap permasalahan yang menyangkut pendidikan kesetaraan kejar paket C dan akan memberikan dampak positif pada peningkatan kualitas pendidikan.

Non Formal Bukan Berarti Tak Bisa Formal

Posted by Glendomi On Selasa, Februari 14, 2012 | 2 comments

Fenomena “aneh” atau boleh dikatakan agak lucu terjadi pada dunia Non Formalyaitu masih banyaknya orang-orang Non Formal yang begitu mencintai keNonFormalannya sampai-sampai tak mengenaltetangganya yaitu Formal. Hal ini nampak jelas terlihat dari cara berbusana dan tampilan orang-orang Non Formal kebanyakan yang boleh dikatakan sedikit “nyentrik” bahkan dapat dilihat pula dari cara tutur katanya. Kecintaan akan dunia Non Formal bukan berarti salah atau tidak diperbolehkan sama sekali, namun terkadang saking cintanya terhadap dunia Non Formal menyebabkan pola hidupnya pun menjaditak Formal. Dapat dicontohkan pada waktu menghadiri acara-acara resmi yang seharusnya memakai pakaian dan berpenampilan Formal akan tetapi yang ditunjukan adalah sebaliknya.

Ada sebuah kisah nyata dari seorang yang berkecimpung dalam dunia Non Formal. Pada waktu itu dia hendak memonitor kegiatan kejar paket C disalah satu daerah sebut saja ia dengan Pak A.
“lho ini mana siswa-siswanya”. Kata Pak A kepada pembimbing kejar paket C.
“ya biasa Pak, namanya juga Non Formal ya seperti ini, sekepenake dewek”. Jawab pembimbing.
“ya bukan begitu, Non Formal adalah bentuk programnya namun bukan berarti bisa molor waktu seperti ini, meskipun Non Formal akan tetapi kedisiplinan dan ketaatan harus seperti halnya pada Formal”. Balas Pak A sembari menerangkan.

Dari sebuah kisah nyata ini dapat terlihat jelas akan adanya paradigma yang melekat pada dunia Non Formal bahwa orang-orang Non Formal masih identik dengan karakter yang seperti itu. Penempatan atau pemosisian diri dari seorang Non Formal kurang pada tempatnya. Masalah ini terlihat jelas dari adanya kedisiplinan yang rendah, kurangnya pemosisian dalam waktu misalkan mengenai penampilan berbusana dalam acara Formal dan juga masih banyak hal-hal lain yang menggambarkan kerancuan arti non formal yang diartikan masyarakat.


Masyarakat bahkan pemain utama dalam pendidikan non formal sering menjadikan “non formal” sebagai tameng bahwa semua hal yang berkaitan dengan non formal ya begitu adanya, tak ada kata formal dalam kamus pendidikan non formal padahal untuk kegiatan non formal sendiri perlu adanya kedisiplinan, budaya saling menghormati sehingga pembelajaran yang diharapkan mampu berjalan dengan baik karena pendidikan non formal pun memiliki tujuan yang jelas sama halnya dengan pendidikan formal yakni mendidik warga belajar menjadi pribadi yang mandiri, mengerti akan budaya, dan sebagainya. (Fatchan)
Belajar bagi beberapa tokoh pendidikan merupakan proses, proses yang berlangsung seumur atau sepanjang hidup mulai dari manusia lahir sampai dengan manusia itu meninggal. Proses belajar merupakan suatu struktur yang berkaitan erat dengan komponen-komponen seperti pembelajar (orang yang belajar), pendidik dan lingkungan. Ketiga komponen tersebut merupakan komponen yang sering muncul dalam membentuk suatu proses belajar yang juga tentunya diikuti dengan komponen pendukung lainnya. Keterkaitan komponen utama tersebut membentuk suatu pola dimana pembelajar memperoleh konsep, pemahaman, pengertian dan pengetahuan dari pembentukan dalam diri pembelajar melalui proses belajar diri sendiri dengan belajar penemuan (discovery learningseperti yang dikemukakan oleh Jerome Brunner, maupun melalui proses pembelajaran dari pendidik dan lingkungan.

Proses belajar yang terbentuk pada diri pembelajar melalui konsep belajar penemuan (discovery learning) pada dasarnya menjelaskan mengenai proses pembentukan belajar dengan jalan menggali dan mencari sendiri pengetahuan, pemahaman, pengertian dan konsep-konsep secara mandiri. Hal ini merupakan suatu penjelasan singkat mengenai pemaparan yang telah diungkapkan oleh Jerome Brunner. Dalam proses belajar penemuan ini terdapat dorongan kuat dari dalam diri untuk terus mencari dan menggali segala sesuatu yang menjadi minat seseorang dalam belajar. Konsep belajar penemuan (discovery learning) pada penerapannya dapat diterapkan pada pembelajaran bagi orang dewasa (andragogi). Orang dewasa pada dasarnya terdapat suatu konsep yang menjadi tolak ukur dalam mendukung penerapan konsep dari belajar penemuan (discovery learning). Konsep yang terdapat pada orang dewasa menyebutkan bahwa orang dewasa telah memiliki konsep diri, pengetahuan/pengalaman, berpihak pada hal/sesuatu yang lebih kongkret dan memiliki kecenderungan untuk berbuat sesuatu yang membawa manfaat secara riil. Berdasarkan konsep yang terdapat pada orang dewasa inilah maka dapat menjadi pertimbangan tersendiri di dalam membentuk suatu pola pembelajaran orang dewasa melalui konsep belajar penemuan (discovery learning). Pola pembelajaran orang dewasa pada umumnya memiliki suatu struktur yang termuat di dalamnya yang menjadi pijakan di dalam pelaksanaan pembelajaran. Namun pada pembahasan kali ini akan mengungkap keterkaitan antara konsep belajar penemuan (discovery learning) dengan konsep orang dewasa dalam membentuk suatu pola pembelajaran orang dewasa sebagai usaha mencapai suatu pembelajaran yang sesuai dengan ketercapaian dari tujuan pembelajaran orang dewasa.

Pembelajaran orang dewasa pada dasarnya berbeda dengan pembelajaran pada anak-anak (paedagogy). Perbedaan tersebut terlihat jelas pada penempatan peserta didik dan pendidik, pada pembelajaran orang dewasa menjelaskan bahwa peserta didik ditempatkan pada posisi subyek aktif di dalam pembelajaran dan pendidik ditempatkan sebagai fasilitator/ tutor yang memiliki tugas membimbing, dengan kata lain pembelajaran pada orang dewasa terkenal dengan istilah andragogy, sedangkan pada pembelajaran pada anak yang sering disebut sebagai pedagogi menyebutkan bahwa peserta didik ditempatkan pada posisi obyek dalam pembelajaran dan pendidik ditempatkan sebagai pengajar tunggal dengan memiliki kekuasaan penuh atas kendali pembelajaran. Berdasarkan perbedaan tersebut telah diketahui bahwa di dalam penerapan atas pembelajaran orang dewasa harus disesuaikan pada konteks peserta didik / warga belajar sebagai subyek aktif dalam pembelajaran (student centered learning). Penerapan atas pembelajaran orang dewasa ini jika dilihat melalui konsep belajar penemuan (discovery learning) sangat tepat dalam pelaksanaan pembelajaran. Hal ini melihat bahwa pada orang dewasa telah tertanam konsep diri yang kuat dalam menggali dan mencari segala sesuatu yang memiliki nilai manfaat cukup tinggi bagi dirinya. Konsep belajar penemuan (discovery learning) menjadi suatu pijakan dalam membentuk pola belajar orang dewasa yang disesuaikan dengan kebutuhan otang dewasa yang memiliki nilai kebermanfaatan yang cukup tinggi bagi orang dewasa. Oleh karena itu, dengan adanya konsep belajar penemuan (discovery learning) maka usaha untuk membentuk suatu kegiatan pembelajaran dengan sasaran orang dewasa akan menuju ketingkat ketercapaian bagi tujuan pembelajaran dan juga bagi terpenuhinya kebutuhan warga belajar. (Fatchan Chasani)

Senin, 13 Februari 2012

Maksimalkan Teknologi dalam Kehidupan

Posted by Glendomi On Senin, Februari 13, 2012 | 1 comment

Teknologi dapat dikatakan sebagai suatu perangkat yang dapat dipergunakan manusia dalam kehidupan sehari – hari guna membantu meringankan segala macam pekerjaan. Perkembangan berbagai macam teknologi kian meluas dengan pesat, namun pemanfaatannya dirasa masih minim. Pemanfaatan yang terjadi hanya sekadar dipermukaan saja tanpa dapat mengolah lebih dalam perangkat teknologi tersebut guna peningkatan produktifitas kerja. Ketidakmaksimalan dalam penggunaan teknologi dalam pemanfaatannya yang terjadi sekarang hanya sebatas pada teknologi komunikasi misalnya sms dan jejaring, padahal teknologi yang disajikan lebih dari itu. Pola pemanfaatannya itupun hanya sebatas untuk hiburan saja tanpa adanya maksud dan tujuan untuk mempermudah bahkan untuk meningkatkan produktivitas dalam bekerja.

Teknologi pada dasarnya bukan diciptakan sebagai alat hiburan semata yang dapat digunakan kapan dan di mana saja, akan tetapi lebih dari itu teknologi memiliki tujuan di dalam penciptaannya yaitu sebagai sesuatu yang dapat digunakan oleh manusia untuk mempermudah kerja manusia dan bahkan sebagai media dalam peningkatan produktivitas kerja. Produktivitas kerja manusia seyogyanya dapat terbantukan oleh seperangkat teknologi, seperti untuk mengetik dan mendesain diperlukan adanya seperangkat komputer dari seperangkat komputer tersebut dapat membuahkan hasil perkerjaan yang lebih efektif dan efisien.


Pemanfaatan teknologi yang tidak maksimal ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang meliputi:

1. Sumber daya manusia yang lemah dalam penggunaan teknologi
Manusia dalam kaitannya dengan teknologi masih dirasa hanya sebatas subyek teknologi, maksud dari subyek teknologi yaitu dimana manusia hanya sekadar penerima pasif dari adanya teknologi yang tentunya menyebabkan sumber daya manusia menjadi lemah dalam penguasaan teknologi. Seyogyanya manusia bukan lagi ditempatkan pada posisi pasif yang hanya sebagai penerima melainkan lebih menjadi obyek dari teknologi tersebut. Penempatan manusia sebagai obyek dari teknologi itu sendiri memiliki kekuatan dimana manusia bukan sekadar hanya bisa menjalankan teknologi semata dan bukan sebagai penikmat teknologi semata tetapi dapat menjadikan manusia kedepannya sebagai pengembang dari teknologi tersebut dengan pengelolaan teknologi yang lebih maksimal dalam hal pemanfaatannya.

2. Ketidaksiapan manusia dalam menerima teknologi yang tidak sebanding dengan pengelolaan teknologi
Teknologi merupakan suatu wujud dari perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan penggunaannya untuk manusia dalam kehidupan. Namun, dalam kenyataannya masih banyak orang yang belum siap menerima teknologi tersebut. Memang hal ini tidak dapat dilihat secara langsung bahwa masih banyak orang yang belum siap menerima teknologi, tapi secara tidak langsung dapat diamati pada penggunaan teknologi oleh manusia masih sebatas gaya hidup dan image semata tanpa melihat manfaat yang sebenarnya terkandung pada teknologi tersebut. Contohnya dapat dirasakan dari pembelian beberapa gadget yang menawarkan fitur kecanggihan yang banyak diburu oleh banyak orang namun pemanfaatannya hanya sebatas untuk internet dan jejaring sosial semata tetapi tak mengerti manfaat lebih yang terkandung di dalamnya seperti sistem pelacak yang dimiliki oleh gadget bersistem android. Ketidaksiapan manusia inilah yang menyebabkan pengelolaan teknologi yang sebatas permukaannya saja tanpa bisa mengolah dan mengembangkan teknologi tersebut secara lebih mendalam dan luas.

3. Teknologi yang begitu menggiurkan manusia sebagai alat hiburan semata
Teknologi pada dasar penciptaannya diperuntukan atau ditujukan untuk manusia sebagai penerima aktif teknologi. Namun yang terjadi adalah bahwa manusia belum bisa menempatkan atau memposisikan teknologi pada ranah yang tepat. Hal ini dapat dilihat dari penempatan teknologi yang belum dimanfaatkan secara tepat, misalnya handphone (HP) sebagai salah satu teknologi yang pada awal mula pembentukannya sebagai alat komunikasi semata kemudian berkembang dengan berbagai fitur hiburan yang menyertainya. Berbagai fitur layanan hiburan pada handphone bagi banyak kalangan hanya digunakan sebagaimana fitur itu diciptakan tanpa bisa mengembangkan berbagai manfaat yang memiliki nilai lebih dari fitur tersebut.

Beberapa faktor di atas sedikit menggambarkan dari adanya pemanfaatan teknologi yang belum maksimal yang seharusnya tidak terjadi. Faktor-faktor tersebut perlu adanya perhatian khusus karena dapat dimungkinkan menjadi penghambat dalam usaha pemanfaatan teknologi yang kedepannya akan berpengaruh pada perkembangan teknologi yang hanya sebatas penggunaannya saja tanpa adanya pengelolaan dan pengembangan teknologi. Perhatian kepada teknologi bukan sekadar penggunakan berbagai teknologi tanpa mampu mengelolanya dengan maksimal akan tetapi lebih dari itu sudah seharusnya perhatian akan teknologi diwujudkan dalam bentuk penggunaan dan pengelolaan secara maksimal dengan langkah awal mengetahui berbagai fitur yang terdapat pada teknologi tersebut kemudian digunakan sebagai langkah pemanfaatan dan selanjutnya dapat mengelola lagi secara mendalam bahkan kalau sanggup atau mampu dapat mengembangkannya menjadi teknologi lain yang dapat dimanfaatkan. Oleh karena itu, mulai dari sekarang dan dari diri sendiri sudah mulailah untuk memanfaatkan secara maksimal berbagai teknologi yang ada di sekitar kita dengan tak sekadar penggunaan saja namun lebih pada mengolah lebih mendalam manfaat yang terkandung pada teknologi tersebut. (Fatchan Chasani)

Teori Belajar Kognitif

Posted by Glendomi On Senin, Februari 13, 2012 | No comments

Kognitif dalam teori belajar mengungkapkan konsep-konsep kognisi yang menjadi acuan di dalam proses belajar dan pembelajaran. Telah dikatakan bahwa konsep perkembangan kognitif dari Piaget mengutamakan pada pengalaman merupakan sumber belajar yang utama, yaitu bahwa anak atau peserta didik bukan merupakan replica (tiruan) dari orang dewasa yang senada dengan pendapat John Locke bahwa anak bukan merupakan gelas kosong yang harus diisi. Di sisi lain Brunner mengemukakan bahwa inti dari perkembangan kognitif yaitu belajar penemuan (discovery learning), maksudnya bahwa di dalam pembentukan pengalaman dan pengetahuan anak atau peserta didik melalui penemuan-penemuan yang mereka cari sendiri. Anak atau peserta didik akan membangun pengetahuan mereka sendiri melalui lingkungan, sehingga tugas kita sebagai seorang pendidik hendaknya menjadi innovator dalam merancang atau membentuk suatu lingkungan belajar bagi peserta didik. Hal ini bertujuan guna membentuk kognitif peserta didik supaya dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya. Perkembangan kognitif  adalah tahap-tahap perkembangan kognitif manusia mulai dari usia anak-anak sampai dewasa; mulai dari proses-proses berpikir secara konkret sampai dengan yang lebih tinggi yaitu konsep-konsep abstrak dan logis.

Pembahasan mengenai teori belajar kognitif dirasa sangat mendesak melihat dari banyaknya pengembang konsep – konsep kognitif yang dalam perkembangannya berbagai macam teori belajar kognitif kini bermunculan. Teori belajar kognitif jika disadari pada dasarnya memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam pola pembelajaran di dalam pendidikan. Pengaruh tersebut merupakan suatu konsep kognitif dimana di dalamnya terkandung suatu pola pembelajaran yang lebih menekankan pada aspek kognisi. Aspek kognisi tersebut merupakan bentuk pemahaman mengenai pola pikir, anaisis dan sampai kepada pemecahan terhadap suatu bentuk masalah. (Fatchan Chasani)

Teori Kritis Pendidikan

Posted by Glendomi On Senin, Februari 13, 2012 | No comments

Teori kritis pendidikan merupakan suatu konsep yang mengkaji tentang teori dan praktik pendidikan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan (humanis) secara kritis. Terdapat suatu hal yang menjadi perhatian khusus dalam kaitannya dengan pendidikan yang masih dirasa belum memanusiakan manusia. Pendidikan masih dipandang sebagai suatu wadah pengolahan, sama halnya suatu pabrik yang mengolah bahan mentah kemudian menjadi barang jadi melalui proses input sampai dengan output. Pendidikan yang demikian pada praktiknya hanya merusak kebebasan anak didik dan tidak memerdekakan mereka sebagaimana subyek aktif dalam pendidikan itu sendiri.

Freire dalam kritikannya menyoroti mengenai praktik pendidikan yang bersifat menindas yang mematikan kemerdekaan dan jiwa kreativitas anak. Pendidikan yang demikian merupakan cerminan pendidikan gaya bank yang hanya memandang bahwa peserta didik merupakan bejana kosong yang lantas diisi oleh guru. Peserta didik diletakkan pada posisi obyek pasif (penerima) sedangkan guru memposisikan dirinya sebagai pemberi pengetahuan. Konsep pendidikan tersebut telah terlihat adanya pola komunikasi satu arah (anti-dialog) yang membelenggu kreativitas anak. Pendidikan yang semestinya dilakukan adalah dengan menggunakan suatu sistem dialogis di dalam praktiknya, peserta didik ditempatkan sebagai suatu subyek aktif dalam pendidikan yang memiliki kebebasan. Pendidikan yang semestinya tidak lagi sebagai praktik yang membelenggu kemerdekaan anak dan kreativitas anak melainkan sebagai suatu praktik yang dapat memfasilitasi anak dalam berkarya dan membentuk komunikasi dialogis. Komunikasi dialogis terbentuk dari adanya beberapa faktor yang mendasari yaitu kecintaan, kerendahan hati, kepercayaan pada manusia (orang lain), adanya harapan, dan berpikir kritis.

Kaitan teori kritis pendidikan dengan dunia Pendidikan Non Formal (PNF) terlihat jelas bahwa teori kritis membawa suatu konsep mengenai bukan sekadar dorongan-dorongan dalam usahanya membentuk pendidikan yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan (humanis) tetapi juga berkembang dalam suatu pola praktik pendidikan yang lebih memperjuangkan kemerdekaan anak dan kreativitas anak. Pendidikan bukan sekadar pola pengisian / pemolesan pengetahuan dari pendidik kepada anak didik yang bersifat satu arah (anti-dialog), melainkan suatu pola komunikasi yang dialogis. Teori kritis pendidikan menjadi suatu hal yang menarik bagi para penggelut dunia pendidikan khususnya pada Pendidikan Luar Sekolah (PLS) dimana menjadi tonggak bukan sekadar konsep tetapi juga pola praktik di dalam pendidikan.

Refleksi Teori Kritis Pendidikan bagi Mahasiswa PLS
Teori kritis pendidikan bagi mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah (PLS) merupakan suatu konsep dan pola menarik yang ke depannya dapat diterapkan dalam usahanya mewujudkan pendidikan yang tidak lagi membelenggu kebebasan anak tetapi lebih pada mendorong anak untuk menunjukan dan mengembangkan segala potensi yang dimiliki anak didik. Mahasiswa PLS dengan penanaman nilai-nilai kekritisan mengenai dunia pendidikan nantinya akan menjadikan bekal penerapan pada bidang-bidang PLS seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), keaksaraan, pendidikan kecakapan hidup, pemberdayaan (perempuan dan masyarakat), pendidikan berkelanjutan, dan kepemudaan. Berbagai bidang PLS tersebut tentunya sangat mengedepankan konsep dan pola pendidikan yang mengarah pada pengembangan peserta didik atas segala potensi-potensi yang dimiliki, tanpa adanya teori yang mengarahkan pada konsep dan pola yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan (humanis) maka akan dipastikan pengembangan peserta didik tidak akan tercapai. Oleh karena itu, dengan adanya teori kritis pendidikan maka mahasiswa PLS diharapkan di dalam penerapan pada berbagai bidang PLS tersebut akan mampu mengembangkan potensi peserta didik dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan (humanis), sehingga keberhasilan dalam pencapaian pengembangan peserta didik dan tujuan-tujuan pendidikan khususnya Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) akan tercapai. (Fatchan Chasani)