Selasa, 18 Desember 2012

Diklat Komputer Dasar SKB Bantul

Posted by Glendomi On Selasa, Desember 18, 2012 | No comments
Pembangunan bangsa berkaitan erat dengan usaha negara dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu usaha tersebut adalah melalui pendidikan. Sektor pendidikan menjadi sektor utama yang dipahami sebagai sektor membangun kualitas sumber daya manusia. Menurut UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia. Dengan kata lain pendidikan merupakan proses pembentukan manusia Indonesia yang berkualitas.
Sektor pendidikan merupakan sektor pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang melibatkan banyak komponen. Komponen pendidikan terdiri dari tujuan pendidikan, pendidik/guru, peserta didik/siswa, strategi pendidikan, kurikulum, dan evaluasi. Pendidik merupakan komponen yang memiliki peran penting dalam suksesnya pembelajaran sebagai bagian dari pendidikan. Pendidik atau guru berperan aktif dalam memberikan pengetahuan kepada peserta didik. Guna memenuhi tugas sebagai seorang pendidik, maka sudah selayaknya pendidik mampu menyampaikan atau memberikan pengetahuan/ilmu tersebut melalui media pembelajaran yang sederhana namun inovatif. Menurut Yudhi Munadi (2010: 7-8), menjelaskan bahwa media pembelajaran dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif.
Usaha untuk peningkatan kompetensi pendidik terutama pendidik PAUD sebagai orang yang terjun secara langsung menangani anak usia dini, maka dilaksanakanlah Program Diklat Komputer Dasar dengan tema “Pembuatan Media Pembelajaran Sederhana melalui  Microsoft Word” untuk pendidik PAUD. Program tersebut merupakan salah satu program Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bantul sebagai bentuk rangkaian program Gugus PAUD yang telah terlaksana pada tanggal 22-24 November 2012.
Harapan dari program diklat tersebut adalah meningkatnya kemampuan pendidik PAUD dalam menciptakan media pembelajaran sederhana namun inovatif. Selain itu, dengan adanya program diklat komputer tersebut maka diharapkan dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan yang lebih mengenai media pembelajaran.

Rabu, 03 Oktober 2012

Komponen-komponen Pembelajaran

Posted by Glendomi On Rabu, Oktober 03, 2012 | 2 comments
Beberapa pakar menyebutkan bahwa pembelajaran merupakan bentuk interaksi antara pendidik dengan peserta didik. Dalam perkembangannya, pembelajaran bukan hanya bentuk interaksi pendidik dan peserta didik saja, namun juga dengan sumber-sumber belajar. Hal ini dapat diartikan bahwa pembelajaran merupakan sebuah sistem yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Pembelajaran sebagai sebuah sistem terdiri dari komponen-komponen yang saling berinteraksi, berinterelasi, dan berinterdependensi antara satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Komponen tersebut antara lain tujuan, pendidik, peserta didik, kurikulum, strategi, media, dan evaluasi. Komponen-komponen pembelajaran dapat digambarkan melalui bagan sebagai berikut:
Bagan tersebut secara jelas telah menggambarkan bahwa pembelajaran merupakan bentuk integritas yang membentuk suatu proses timbal balik antara komponen-komponennya. Komponen pembelajaran tersebut membentuk suatu pola saling berhubungan dan saling mempengaruhi.

1.      Tujuan Pembelajaran
Pembelajaran pada dasarnya mengacu tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran memiliki peran penting dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan tujuan pembelajaran digunakan sebagai konsep dan pola pembelajaran yang akan dilakukan. Menurut Hermawan (2008: 9.4) Tujuan pembelajaran merupakan rumusan perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar tampak pada diri siswa sebagai akibat dari perbuatan belajar yang telah dilakukan. Hermawan (2008: 1.17) Tujuan yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas terhadap pemilihan materi / bahan ajar, strategi, media, dan evaluasi.
Tujuan pembelajaran tidak terlepas dari tuntutan zaman dan kebutuhan. Hal ini dikarenakan bahwa pembelajaran dirancang sedemikian rupa guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Selain itu, tujuan pembelajaran disusun mengacu pada falsafah dan ideologi suatu bangsa. Hal ini memiliki makna bahwa pembelajaran merupakan subsistem dari pendidikan secara umum yang mengemban beberapa aspek yang meliputi poltik, budaya, ekonomi dan juga kekuatan-kekuatan sosial.
Pendapat lainnya dikemukakan oleh Bloom pada teorinya yaitu Taknonomi Bloom yang menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran memiliki 3 aspek. Aspek-aspek tersebut meliputi kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan). Ketiga aspek tersebut dijadikan sebagai standard kemampuan yang harus dicapai di dalam pembelajaran dengan kata lain bahwa ketiga aspek tersebut merupakan indikator kualitas pencapaian hasil belajar peserta didik.
Sujarwo (2012: 5) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran ada dua jenis, yaitu: 1) tujuan pembelajaran umum, dan 2) tujuan pembelajaran khusus. Tujuan pembelajaran umum harus mempertimbangkan relevansi tujuan dengan tujuan yang lebih tinggi. Dalam merumuskan tujuan instruksional umum relevansi tujuan kurikuler mata pelajaran yang bersangkutan termasuk pengembangannya dan bidang pekerjaan yang akan dihadapi menjadi rumusan yang sangat penting. Tujuan pembelajaran khusus dalam perumusannya dilakukan melalui langkah: 1) melakukan analisis instruksional, 2) mengidentifikasi perilaku awal peserta didik, 3) merumuskan standar kompetensi, 4) kompetensi dasar, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi pokok, pengalaman belajar, 7) langkah-langkah pembelajaran, 8) media dan sumber belajar, 9) penilaian. Secara operasional ada empat faktor yang digunakan untuk menentukan tujuan pembelajaran, yaitu : 1) attention, 2) behavior 3) confidance dan 4) degree. Seorang pendidik dituntut untuk dapat mencapai tujuan ke dalam empat aspek tersebut yang telah dirumuskan dalam tujuan instruksional khusus setelah proses pembelajaran.
2.      Pendidik
Pendidik menjadi komponen pembelajaran berikutnya yang menempati posisi dalam menciptakan kegiatan belajar-mengajar baik di kelas maupun di luar kelas. Pendidik di dalam perkembangannya bukan lagi berperan sebagai sumber dari segala sumber belajar namun lebih berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan belajar peserta didik. Hal ini dijelaskan secara lebih mendalam oleh Hermawan, dkk (2008: 9.4) yang menyatakan bahwa pendidik menempati posisi kunci dan strategis dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan untuk mengarahkan siswa agar dapat mencapai tujuan secara optimal. Pendidik harus mampu menempatkan dirinya sebagai diseminator, informator, transmitter, transformator, organizer, fasilitator, motivator, dan evaluator bagi terciptanya proses pembelajaran siswa yang dinamis dan inovatif.
Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 butir 6, Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan istilah lainnya yang sesuai dengan kekhususannya yang juga berperan dalam pendidikan. Mengacu pada UU sisdiknas dapat diartikan bahwa pendidik merupakan tenaga kependidikan yang memiliki kualifikasi tertentu sebagai seorang figur yang tentunya harus mampu menetapkan dan menerapkan strategi-strategi demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Sujarwo (2012: 6-7) menyebutkan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada jenjang pendidikan tinggi. Pendidik adalah suatu pekerjaan yang bersifat profesional, dalam arti suatu pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh individu yang secara khusus telah dipersiapkan. Sebagai tenaga profesional seorang pendidik mempunyai tugas dan peranan yang sangat kompleks, tidak terbatas pada saat berlangsungnya interaksi pembelajaran di dalam kelas, namun juga bertugas sebagai administrator, fasilitator, motivator, evaluator dan konselor. Menurut Glasser ada empat hal yang harus dikuasai seorang pendidik, yaitu: a) menguasai bahan pelajaran, b) kemampuan mendiagnosis tingkah laku peserta didik, c) kemampuan melaksanakan proses pembelajaran, d) kemampuan menyimpulkan hasil belajar. A teacher is a person who help others learn (seorang pendidik adalah seorang yang membantu belajar orang lain) kehadiran seorang pendidik dalam proses pembelajaran merupakan peran yang sangat penting dan tidak dapat digantikan oleh mesin, radio atau tape recorder,media, bahkan komputer yang paling canggihpun, karena dalam proses pembelajaran melibatkan unsur-unsur manusiawi seperti; sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, emosi, kebiasaan dan lain-lain yang kesemuanya merupakan sumber daya dan potensi pembelajaran. Tugas pokok seorang pendidik dalam proses pembelajaran, meliputi: a) menyusun program pembelajaran atau praktik, b) menyajikan program pembelajaran atau praktik, c) melaksanakan evaluasi belajar atau praktik, d) melaksanakan analisis hasil evaluasi belajar atau praktik, e) menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan, f) menyusun dan melaksnakan program bimbingan dan penyuluhan di kelas yang menjadi tanggungjawabnya, g) membimbing peserta didik dalam kegiatan kurikulum, h) membimbing pendidik dalam kegiatan proses pembelajaran atau praktik perorangan, i) melaksanakan bimbingan karier peserta didik, j) mengikuti kegiatan ujian. Dalam melaksanakan tugas pokoknya, seorang pendidik dipersyaratan memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, professional dan kompetensi sosial.
3.      Peserta Didik
Komponen pembelajaran selanjutnya yaitu peserta didik. Peserta didik dapat diartikan sebagai orang yang berperan di dalam kegiatan belajar, dengan kata lain peserta didik diposisikan sebagai subyek utama dalam proses pembelajaran. Menurut Sujarwo (2012: 6) peserta didik sebagai subyek yang mengalami dan merespons informasi dari pendidik dengan sikap dan aktivitas belajar. Perlu disadari bahwa setiap peserta didik memiliki kemampuan dan potensi yang terbaik bagi dirinya, potensi tersebut akan berkembang secara optimal bila diberi kesempatan. Masing-masing individu memiliki kemampuan dasar berbeda, sehingga pelayanan dalam pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan kemampuannya. Pola penyeragaman dalam pengelolaan peserta didik dalam pembelajaran mulai dikurangi, variasi pelayanan mulai dikembangkan, agar masing-masing potensi dapat berkembang secara optimal. Pada awalnya peserta didik belum menyadari pentingnya belajar, seiring dengan proses pembelajaran pembiasaan belajar melalui pemberian kesempatan pengalaman belajar.
Menurut Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pasal 1 butir 4 menyebutkan bahwa “peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan pendidikan tertentu”.
Mengacu pada penjelasan Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 tentang peserta didik, dapat dijabarkan lagi mengenai penyebutan peserta didik yang memiliki istilah-istilah sendiri sesuai lingkup pembelajaranya yaitu peserta didik untuk jenjang pendidikan dasar (SD) dan pendidikan menengah (SMP dan SMA) disebut siswa, untuk jenjang pendidikan tinggi (perguruan tinggi) disebut mahasiswa dan untuk kegiatan pendidikan & pelatihan (diklat) disebut peserta diklat. Selain itu, masih mengacu pada Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 tentang peserta didik dapat dijabarkan pula bahwa peserta didik merupakan individu-individu yang sedang mengembangkan segala potensi diri melalui proses pembelajaran. Hal ini mengandung arti bahwa pembelajaran merupakan proses yang secara sederhana peserta didik merupakan individu yang unik yang pada dasarnya telah memiliki kemampuan yang kemudian dikembangkan melalui proses pembelajaran sehingga potensi tersebut dapat berkembang.
Secara keseluruhan jelas bahwa peserta didik di dalam mengembangkan potensinya melalui proses pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan peserta didik yang dapat ditempuh melalui jalur, jenjang dan pendidikan tertentu. Perkembangan peserta didik diselaraskan dengan potensi yang hendak dikembangkan yang sesuai dengan umur peserta didik.
4.      Kurikulum
Sujarwo (2012: 7) mengemukakan bahwa kurikulum merupakan seperangkat rencana kegiatan pembelajaran yang berisi tujuan, materi pembelajaran, pembelajaran (metode/strategi), dan penilaian dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kurikulum dipandang sebagai semua pengalaman belajar yang diberikan pendidik kepada peserta didik selama mengikuti pendidikan di suatu lembaga pendidikan, atau segala usaha lembaga pendidikan yang menghasilkan lulusan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Materi pembelajaran di dalam kurikulum diartikan sebagai bahan yang hendak diajarkan kepada peserta didik, dengan kata lain materi pembelajaran merupakan bahan ajar yang terdiri dari pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dipelajari peserta didik sesuai dengan standard kompetensi yang telah ditetapkan. Secara garis besar materi pembelajaran selaras dengan pendapat Bloom melalui teori Taksonomi Bloom bahwa kemampuan yang harus dikuasai dan dimiliki oleh peserta didik terdiri dari kemampuan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan). Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat ditinjau dari 2 segi yaitu pendidik dan peserta didik. Materi pembelajaran dari segi pendidik merupakan bahan yang harus diajarkan oleh pendidik kepada peserta didik pada proses pembelajaran. Dari segi peserta didik, materi pembelajaran merupakan bahan yang harus dipelajari dengan tujuan pencapaian standard kompetensi dan kompetensi yang telah ditetapkan.
Menurut Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa “kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Sujarwo (2012: 8) Memperhatikan rumusan kurikulum di atas tersirat empat hal pokok, yakni (a) isi kurikulum, adalah mata pelajaran yang diberikan oleh lembaga pendidikan terhadap peserta didik; (b) tujuan kurikulum, yakni agar anak didik menguasai mata pelajaran tertentu yang kemudian disimbolkan dengan ijazah. (c) kurikulum aktivitas, kurikulum dipandang secara pentahapan pengalaman belajar yang dilakukan oleh pendidik, dan (4) kurikulum dipandang sebagai bentuk penilaian, kurikulum mengatur model, bentuk, dan jenis penilaian yang dilakukan. Para pendidik bertanggung jawab sepenuhnya dalam pelaksanaan kurikulum, baik secara keseluruhan kurikulum, maupun tugas sebagai penyampai bidang studi atau mata pelajaran yang telah dirancang dalam kurikulum. Pendidik harus berusaha agar penyampaian materi pembelajaran dapat berhasil secara maksimal. Sebagai pengelola kurikulum pendidik bertanggung jawab membuat perencanaan mengajar baik dalam bentuk perencanaan secara urut maupun dalam pembuatan model satuan pelajaran. Tugas dan tanggung jawab pendidik dalam hubungannya dengan kurikulum adalah menjabarkan dan mewujudkan kurikulum potensial menjadi kegiatan nyata di dalam kelas melalui proses pembelajaran. Implementasi kurikulum dalam pembelajaran merupakan proses penerapan ide, konsep, kebijakan sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai dan sikap. Implementasi kurikulum adalah proses penerapan ide, konsep dan kurikulum potensial dalam pembelajaran sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi sebagai hasil interaksi dengan lingkungan.
5.      Strategi
Strategi dapat diartikan sebagai pokok-pokok yang menjadi acuan untuk bertindak mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi menjadi komponen pembelajaran yang memiliki arti suatu rencana kegiatan pembelajaran yang dirancang dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran. Sujarwo (2012: 7-8) mengemukakan bahwa strategi merupakan suatu penataan mengenai cara mengelola, mengorganisasi dan menyampaikan sejumlah materi pembelajaran untuk dapat mewujudkan tujuan pembelajaran, sedangkan pembelajaran merupakan pengaturan informasi dan lingkungan sedemikian rupa sehingga memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri peserta didik. Dalam penyajian informasi tersebut terjadi interaksi, interelasi dan interdependensi di antara pendidik, peserta didik dan lingkungan belajar. Strategi pembelajaran dimaknai sebagai suatu strategi dalam mengelola secara sistematis kegiatan pembelajaran sehingga sasaran didik dapat mencapai isi pelajaran atau mencapai tujuan yang diharapkan.  Dick, Carey & Carey (2003: 1) menyebutkan lima komponen umum dari strategi instruksional sebagai berikut: 1) kegiatan pra instruksional, 2) penyajian informasi, 3) partisipasi peserta didik, 4) tes, dan 5) tindak lanjut. Sembilan urutan kegiatan instruksional, yaitu: 1) memberikan motivasi atau menarik perhatian, 2) menjelaskan tujuan instruksional kepada peserta didik, 3) mengingatkan kompetensi prasyarat, 4) memberi stimulus (masalah, topik, dan konsep, 5) memberikan petunjuk belajar, 6) menentukan penampilan peserta didik, 7) memberi umpan balik, 8) menilai penampilan, 9) menyimpulkan.
Strategi pembelajaran pada dasarnya harus menjadi kemampuan pendidik. Pendidik harus mampu di dalam merancang dan menerapkan strategi pembelajaran yang dirasa efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran. Di dalam merancang dan menerapkan strategi pembelajaran tentunya harus melihat pada aspek kesesuian pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan acuan kurikulum dan keterlibatan peserta didik.
6.      Media Pembelajaran
Media merupakan suatu alat, benda atau seperangkat komponen yang dapat digunakan sebagai sarana dalam menyampaikan informasi, pesan ataupun suatu hal sehingga informasi atau pesan tersebut dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan, yang pada intinya media berperan dalam mempermudah pekerjaan manusia. Gagne dan Briggs dalam Arsyad (2011: 4-5) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri antara lain buku, tape recorder, kaset video camera, video recorder, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, televisi dan komputer. dengan kata lain, media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Di lain pihak, National Education Association memberikan definisi media sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visual dan peralatannya, dengan demikian, media dapat dimanupulasi, dilihat, didengar atau dibaca.
Sujarwo (2012: 10) mengatakan bahwa media dimaknai sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian dan kemauan peserta didik, sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri peserta didik. Media pembelajaran meliputi; media cetak dan media elektronik, media cetak meliputi: gambar, sketsa, kartun, diagram, chart, grafik, poster, sedangkan media elektronik meliputi: audio seperti: a) radio, tape, b) visual seperti: film, slide, film strip, film loop, epidioskop OHP, c) audio visual seperti: televisi, film suara. radio vision, slide suara, tape dan film suara.
7.      Evaluasi Pembelajaran
Sujarwo (2012: 10-11) mengatakan bahwa evaluasi berasal dari bahasa Inggris yang berarti penilaian atau penaksiran, sedangkan menurut pengertian istilah evaluasi adalah suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.
Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses atau kegiatan yang dilakukan secara sistematis, berkelanjutan dan dilakukan secara menyeluruh dengan tujuan penjaminan, pengendalian dan penetapan kualitas (nilai, makna dan arti) atas berbagai komponen pembelajaran berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu. Dalam Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar proses dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan poses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran.






DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers
Dick, W., Carey, L., & Carey, J.O. 2003. The Systemic Design of Instruction. New York : Harper Collins Publisher Inc.
Hermawan, A.H dkk. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
Peraturan Menteri No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses
Sujarwo. 2012. Model-model Pembelajaran: suatu strategi mengajar. Yogyakarta
Himpunan Peraturan Perundang-undangan. 2009. Undang-undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003. Bandung: Fokus Media

Kamis, 27 September 2012

Evaluasi Pembelajaran

Posted by Glendomi On Kamis, September 27, 2012 | No comments

Kehidupan kita sehari-hari tidak terlepas dari adanya kegiatan yang disebut evaluasi. Evaluasi, sebuah kata yang terkadang dipertukarartikan bahkan tak jarang disamaartikan dengan pengukuran dan penilaian. Padahal ketiga istilah tersebut mengandung arti yang berbeda satu dengan lainnya. Pengukuran, penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki yang mengandung artian bahwa ketiga kegiatan tersebut tidak dapat dipisahkan dan merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan secara berurutan. Untuk dapat memahami arti dari ketiga kegiatan tersebut kita harus mengetahui terlebih dahulu arti pengukuran, penilaian dan kemudian evaluasi. Penjabaran mengenai definisi ketiganya dapat dipaparkan sebagai berikut:
1. Pengukuran
Pengukuran merupakan kegiatan yang dilakukan dengan cara membandingkan suatu objek (benda/barang) dengan ukuran tertentu dan lebih bersifat kuantitatif terhadap suatu objek. Misalnya: mengukur tinggi tiang dengan satuan (cm).
Pengukuran di dalam pembelajaran memiliki makna yaitu proses membandingkan hasil belajar peserta didik dengan standard belajar yang telah ditetapkan.
2. Penilaian
Penilaian merupakan kegiatan memberikan nilai atau arti pada suatu objek (benda/barang) yang sebelumnya telah dilakukan pengumpulan dan pengolahan informasi terkait objek tersebut, misalnya: panjang-pendek, besar-kecil, tinggi-rendah, bagus-buruk.
Penilaian di dalam pembelajaran mengandung arti suatu proses pengumpulan informasi dan pengolahan informasi menjadi data yang akan menentukan kualitas (nilai atau arti) terhadap hasil belajar peserta didik.
3. Evaluasi
Evaluasi secara sederhana merupakan kegiatan yang meliputi kegiatan dari penilaian sampai pada pengukuran yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan dengan tujuan untuk menentukan keputusan atau kualitas (nilai dan arti)

Referensi:
Diambil dari berbagai sumber

Rabu, 26 September 2012

Peran Aktif Pemuda

Posted by Glendomi On Rabu, September 26, 2012 | No comments

Pemuda merupakan generasi yang penuh dengan semangat, generasi penerus dan generasi yang sangat identik dengan perubahan. Pemuda menunjukan dirinya sebagai generasi yang memiliki inisiatif-inisiatif di dalam membangun bangsa. Inisiatif tersebut dapat dilihat dari peran aktif pemuda sebagai kader bangsa yang berjuang dengan gagah berani membela bangsa sampai pada titik darah penghabisan. Hal ini dapat dilihat dari pemuda-pemuda yang telah mencoretkan namanya di dalam sejarah pada masa perjuangan melawan penjajah. Pemuda-pemuda itu adalah Ir. Soekarno, Muh. Hatta, Bung Tomo, Sultan Syahrir dan pemuda-pemuda lainnya.
Cerminan pemuda dapat dilihat dari adanya bentuk nasionalisme yang telah ditunjukan. Namun bagaimanakah peran pemuda saat ini yang telah melewati masa penjajahan dan pergolakan melawan penjajah?. Apakah sampai disini peran pemuda yang hanya dapat ditunjukan oleh pemuda-pemuda pada masa perjuangan? Dan rasa nasionalisme pemuda sekarang seolah-olah pudar ditelan oleh peradaban yang semakin maju dan canggih.
Peran aktif pemuda dewasa ini dapat ditunjukan melalui berbagai bentuk. Peran aktif pemuda dapat digambarkan sebagai berikut:
1.      Pemuda Sebagai Generasi Penerus Bangsa
Generasi penerus disini mengandung makna bahwa pemuda merupakan generasi yang mampu meneruskan nilai-nilai bangsa dan memegang teguh idealisme bangsa. Nilai tersebut harus tetap dijunjung tinggi oleh bangsa dengan bertolak pada kebenaran akan nilai-nilai yang menjadi idealisme bangsa dan bukan pada penguatan atas nilai-nilai yang hanya mementingkan unsur pragmatis semata, namun lebih kepada kebenaran yang mutlak.
Nilai-nilai yang harus tetap dijaga dan diteruskan oleh para pemuda adalah nilai-nilai yang luhur dan merupakan kepribadian bangsa. Nilai-nilai tersebut seperti kejujuran, keramahan dan kesigapan serta nilai-nilai lainnya.
2.      Pemuda Sebagai Generasi Pengganti
Pemuda merupakan generasi yang penuh dengan semangat baru dalam membangun bangsa. Hal ini merupakan pernyataan mutlak dan menjadi sesuatu yang dapat dipahami secara mudah bahwa pemuda adalah generasi pengganti. Generasi pengganti mengandung artian bahwa pemuda merupakan aset bagi terbentuknya generasi-generasi yang tangguh dengan berbagai kemampuan yang dimiliki. Kemampuan tersebut meliputi jiwa dan raga yang kuat dengan disertai akhlak mulia.
Pemuda sebagai generasi pengganti sudah seharusnya menggali segala ilmu dan menjadi manusia yang tangguh dalam profesionalitas serta kedekatan dengan masyarakat yang terus dibangun. Hal ini tentunya harus dilakukan secara berkesinambungan dengan terus mempelajari berbagai hal yang telah terjadi pada generasi sebelumnya dan menjadikannya sebagai bahan koreksi untuk membangun diri.
3.      Pemuda Sebagai Generasi Pembaharu
Pemuda adalah generasi dengan berbagai inisiatif dan sangat inovatif dalam membentuk segala sesuatunya. Pemuda sebagai generasi pembaharu dapat diartikan bahwa pemuda merupakan manusia-manusia yang menjadi agen dalam tercapainya perubahan-perubahan. Perubahan tersebut bersifat baru yang memiliki arti bahwa perubahan itu adalah perubahan dalam mengatasi berbagai persoalan menyangkut masyarakat sampai pada bangsa ini.
Pembaharu bangsa adalah pemuda yang terus berkontribusi dalam menciptakan perubahan-perubahan menuju bangsa yang adil, makmur dan sejahtera. Perubahan yang dilakukan pemuda bertolak pada ideologi yang benar.
4.      Pemuda Sebagai Semangat Bangsa
Sebuah pepatah mengatakan bahwa semangat akan bangkit dari generasi-generasi baru. Generasi baru tersebut adalah pemuda yang dengan gagah berani telah menunjukan dan memberikan pengaruh kuat dalam mengobarkan semangat kebangsaan. Semangat bangsa yang lahir dari pemuda merupakan wujud dari kemampuan yang diusung para pemuda. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan fisik yang tergolong muda dan kuat, kemampuan intelektual yang terus berkembang dan terbuka dengan hal-hal baru serta yang paling dominan adalah kemampuan emosional dalam membangkitkan semangat baru.

Reverensi :
Nur Istiqomah, Gita.(2010). Makalah Peran Pemuda, Permasalahan dan Tantangannya. Sulawesi Utara
Catatan perkuliahan Pendidikan Kepemudaan tahun 2012

Senin, 24 September 2012

Belajar tempo dulu vs sekarang

Posted by Glendomi On Senin, September 24, 2012 | No comments

Belajar merupakan suatu proses, begitu kata beberapa pakar menyebutkan yang pada intinya bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku akibat dari adanya interaksi pembelajar (orang yang belajar) dengan lingkungannya. Belajar bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan dalam kondisi seperti apapun.

Menyinggung bahwa belajar bisa dilakukan dimana saja, kapan saja dan dalam kondisi seperti apapun pada dasarnya sudah dibuktikan kebenarannya. Mengapa demikian?. Hal ini dibuktikan pada konsep belajar tempo dulu yang meskipun dalam kondisi yang serba minim (kekurangan), baik itu fasilitas (sarana & prasarana belajar) maupun kondisi fisik si pembelajar. Belajar tempo dulu banyak dilakukan dalam gelapnya ruangan yang hanya disandingkan sebuah teplok (lampu minyak). Belajar tempo dulu terjadi di pembelajar harus mencari sesuap nasi (bekerja) dengan membawa buku catatan yang diperolehnya dari bangku sekolah. Belajar tempo dulu dilakukan pada kondisi fisik yang tidak begitu sehat karena harus belajar di sekolah pada pagi hingga siang hari kemudian dilanjutkan bekerja di sawah misalnya sampai petang kemudian seusai itu pulang dan harus membantu orang tua di rumah. Kondisi, waktu dan tempat itulah yang digunakan pembelajar untuk terus belajar mencari ilmu.

Sekarang bandingkan dengan konsep belajar pada masa sekarang. Teori – teori mengenai belajar banyak bermunculan yang kurang lebih banyak disampaikan bahwa kegiatan belajar harus dapat dilakukan dengan senyaman mungkin, fasilitas belajar harus dipenuhi sebaik mungkin dan lain sebagainya. Pada intinya konsep belajar masa sekarang lebih mengarahkan bahwa belajar bisa dapat diraih jika berbagai fasilitas yang baik, kondisi belajar yang nyaman dan kesehatan yang mendukung dapat dipenuhi sebelumnya. Hal ini tentu bertolak belakang dengan apa yang terjadi pada tempo dulu yang meskipun serba kekurangan dengan berbagai keterbatasan namun bisa memacu semangat dan terus giat dalam belajar. Hasilnya pun tidak main-main, dari berbagai kekurangan dan keterbatasan maka menjadikan hal itu sebagai tempaan diri menuju kesuksesan. Hal ini dibuktikan dari berbagai tokoh kampung (daerah) yang mampu melejit dengan kesuksesan yang diraihnya.

Namun bukan berarti teori atau konsep belajar yang ada sekarang ini salah. Penulis hanya mengajak dan mengarahkan mengenai bagaimana dengan adanya konsep belajar sekarang yang dapat dikatakan lebih baik dari segi kondisi belajar dan fasilitas belajar akan lebih mampu menjadikan generasi-generasi penerus bangsa ini lebih baik lagi. Dan tentunya dengan konsep belajar yang diusung sekarang ini bukan menjadikan generasi muda terlena dan menganggap nyaman kondisi belajar yang ada, namun harus menjadi bahan dalam mencari ilmu dan perubahan diri menuju generasi yang unggul. Harapan yang menjadi cita-cita semua orang adalah bangsa ini menjadi bangsa yang maju dengan generasi-generasi yang mampu memanfaatkan fasilitas belajar yang ada dengan baik dan bijak yang kemudian mampu juga dalam mengamalkan segala ilmu dari hasil belajar tersebut pada diri sendiri, orang lain dan tentunya bangsa ini.(Fatchan)

Jumat, 15 Juni 2012

Rapat Triwulan Semasa

Posted by Glendomi On Jumat, Juni 15, 2012 | No comments
Glendomi. Jum'at, 16 Juni 2012 bertempat di Semasa (Sekolah Masyarakat Desa), sebuah komunitas yang konsern terhadap pendidikan terutama menyangkut pendidikan masyarakat. Sekitar pukul 19.00 WIB agenda pertemuan rutin setiap 3 bulan dibuka oleh Pak Agung Kurniawan selaku Kepala Semasa kemudian dilanjutkan oleh mba Indah selaku Kepala Sekolah KB Semasa. 

Pertemuan tersebut lebih membahas mengenai berbagai kegiatan yang menyangkut KB Semasa. Salah satunya mengenai agenda bulan Juli 2012 mengingat adanya bulan Ramadhan dan juga kegiatan parenting yang rencananya akan dilaksanakan esok hari tanggal 17 Juni  2012 dengan pembicara Ibu Beni yang merupakan dosen dari UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) dan dilanjutkan pada 7 Juli 2012 mengenai pembuatan Baby Book untuk ibu-ibu anak usia dini. 

Selain itu juga dibahas mengenai rencana KB Semasa ke depan yang akan membuka peserta didik (anak didik) baru dan merencanakan juga untuk menetapkan SPP untuk lebih mendukung kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan anak usia dini yang ada di Semasa. Selain itu tidak menutup kemungkinan juga bagi seluruh pihak dapat berdonasi ke lembaga Semasa guna meningkatkan program-program dan berbagai kegiatan menyangkut pendidikan kemasyarakatan. 

Senin, 02 April 2012

Pustaka Adil Tepi Code

Posted by Glendomi On Senin, April 02, 2012 | No comments
Senin, 2 April 2012 beberapa mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Yogyakarta berkunjung ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Pustaka Adil. Maksud dan tujuan kedatangan beberapa mahasiswa PLS adalah untuk bersilaturahmi segaligus sharing mengenai TBM yang berada di wilayah DIY.

Jalan berliku melewati gang-gang sempit dan sesekali terdapat tanjakan merupakan jalan menuju TBM Pustaka Adil. Keberadaan TBM Pustaka Adil sangat di luar dugaan, meskipun berada di tepi sungai Code yang mungkin dirasa bagi sebagian orang merupakan permukiman padat penduduk yang mustahil bisa berdiri suatu tempat belajar, namun inilah yang terjadi, bertempat disebuah rumah milik Pak Agung berdirilah TBM bernama Pustaka Adil. 

Sabtu, 17 Maret 2012

Pengelolaan APE Semasa

Posted by Glendomi On Sabtu, Maret 17, 2012 | No comments
Jumat, 16 Maret 2012 bertempat di Semasa, Dongkelan, Kasihan, Bantul telah dilaksanakan agenda pengelolaan APE (Alat Peraga Edukatif) yang dimotori oleh Mochamad Fatchan Chasani, Siti Septiyany Dewi dan Zulfa Naimatuzahro yang merupakan mahasiswa PLS (Pendidikan Luar Sekolah) angkatan 2009 Universitas Negeri Yogyakarta. Pengelolaan APE di Semasa merupakan agenda dari serangkaian program Praktik Jurusan yang sudah dimulai dari bulan Februari 2012. 

Pengelolaan APE meliputi klasifikasi APE menurut ukuran, penempatan APE dan pembenahan APE. Pengelolaan APE dimulai dari pengklasifikasian APE menurut besar-kecil ukuran APE kemudian berlanjut pada penempatan APE dengan menempatkan APE yang besar pada rak yang paling rendah, APE yang kecil pada rak teratas sampai pada pembenahan APE yang masih baru. Tujuan dari agenda ini adalah untuk merawat APE yang sudah ada dan yang lebih utama yaitu untuk membantu para pendidik dalam pengklasifikasian dan penempatan APE. Selain itu, agenda pengelolaan APE juga memberikan manfaat kemudahan bagi para peserta didik yang akan mengambil sejumlah APE pada rak-rak yang tersusun rapi tanpa menimbulkan bahaya tertimpa APE. 

Agenda pengelolaan APE di Semasa semoga akan mampu memberi dampak positif bagi perkembangan Semasa, khususnya PAUD Semasa yang masih perlu untuk mendapat perhatian dengan berbagai program-program yang inovatif dan mampu mendorong berkembangnya PAUD Semasa. Fatchan

Jumat, 16 Maret 2012

Pempek di PKBM Wiratama

Posted by Glendomi On Jumat, Maret 16, 2012 | No comments
Jumat, 16 Maret 2012 bertempat di PKBM Wiratama sekitar pukul 16.00 WIB telah diadakan Pelatihan Memasak Pempek. Pelatihan ini merupakan permulaan dari serangkaian program PKH (Pendidikan Kecakapan Hidup) yang ditujukan kepada warga belajar keaksaraan. Program ini direncanakan akan berkelanjutan dengan dilaksanakan setiap minggu.

Pelatihan memasak pempek dimulai dengan perkenalan dari beberapa mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah angkatan 2009 Universitas Negeri Yogyakarta selaku mitra kerja PKBM Wiratama. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai pembuatan pempek yang langsung diikuti oleh para peserta pelatihan. Pelatihan memasak pempek diikuti sekitar 19 warga belajar keaksaraan yang mayoritas ibu-ibu rumah tangga. Pelatihan ini mendapat respon positif dari warga belajar keaksaraan, hal ini ditunjukan dengan antusias para peserta pelatihan mengikuti setiap arahan dan bimbingan dari mahasiswa mulai dari membuat adonan sampai proses memasak pempek. Pelatihan ini tidak hanya sekadar mengajarkan mengenai praktik memasak pempek namun juga diselingi dengan belajar membaca setiap kata dari bahan-bahan pempek yang telah tersedia.

Meskipun dengan usia yang sudah tidak lagi muda, namun para peserta pelatihan sangat bersemangat untuk mengikuti pelatihan sampai selesai. Mereka berharap dengan kegiatan semacam ini akan membawa manfaat yang baik dan mereka sangat mengharapkan kegiatan seperti ini akan terus berjalan. Sani

Selasa, 13 Maret 2012

Aliran Filsafat Pendidikan

Posted by Glendomi On Selasa, Maret 13, 2012 | No comments

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.

Beberapa aliran filsafat pendidikan:
1.      Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks.  Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
2.      Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme
Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada.
Esensialisme juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat hahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual. Realisme berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung pada apa dan bagaimana keadaannya, apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada subjek tersebut.
Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut. Menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai- nilai yang telah teruji keteguhan-ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang masa.
3.      Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.
Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.
Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:
a.     Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)
b.   Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)
c.    Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)
            4.      Filsafat pendidikan konstruktivisme
Teori konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:
a.       Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
b.   Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
c.  Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
d.   Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
e.   Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
f.       Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik miknat pelajar.

DAFTAR PUSTAKA
Abdulhak, Ishak. 2010. Filsafat Ilmu Pendidikan: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. 2012. Esensialisme. http://id.wikipedia.org/wiki/Esensialisme
Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. 2012. Progresivisme. http://id.wikipedia.org/wiki/Progresivisme
Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. 2012. Eksistensialisme. http://id.wikipedia.org/wiki/Eksistensialisme






Minggu, 11 Maret 2012

“Semasa” Tumbuh Bersama Generasi Muda

Posted by Glendomi On Minggu, Maret 11, 2012 | 2 comments

Sabtu, 10 Maret 2012 bertempat di Semasa (Sekolah Masyarakat Desa) sekitar pukul 16.40 WIB telah dilaksanakan pemeriksaan dan pemantauan mengenai tumbuh kembang anak usia dini terhadap peserta didik PAUD Semasa. Pemantauan mengenai tumbuh kembang anak usia dini meliputi pemeriksaan berat badan dan tinggi badan. Pemeriksaan dan pemantauan tumbuh kembang dilakukan oleh para pendidik PAUD disela-sela kegiatan pembelajaran mulai berakhir.

Pemeriksaan dan pemantauan yang ditujukan pada peserta didik PAUD Semasa mengenai tumbuh kembang dilakukan guna mengetahui tentang sejauh manakah pertumbuhan anak usia dini yang menyangkut tinggi badan dan berat badan. Pemeriksaan dan pemantauan ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan mengontrol kesesuaian antara usia anak dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Hasil dari pemeriksaan dan pemantauan mengenai tumbuh kembang anak usia dini akan digunakan sebagai acuan bagi pengelolaan pembelajaran yang meliputi materi belajar dan pemberian nutrisi tambahan melalui asupan makanan sehat.

Pemeriksaan dan pemantauan mengenai tumbuh kembang anak usia dini dilaksanakan secara rutin oleh PAUD Semasa. Hal ini dikarenakan tumbuh kembang anak tidak hanya dilihat dari adanya pola pemberian materi belajar yang hanya mengutamakan perkembangan intelegensi anak, melainkan harus diperhatikan juga mengenai perkembangan dan pertumbuhan fisik anak sebagai daya dukung pembentukan / pembangunan diri anak yang tangguh, yang pada akhirnya akan tercipta generasi-generasi muda bangsa yang kokoh dan siap untuk mengarungi masa depan yang cerah. 

Sabtu, 10 Maret 2012

Rajin Bikin, Tak Rajin Merawat

Posted by Glendomi On Sabtu, Maret 10, 2012 | No comments
Rajin Bikin, Tak Rajin Merawat
Sebongkah kalimat di atas sedikit menggambarkan dari sebagian orang yang memiliki Blog atau website namun tak jarang Blog atau Web tersebut tidak mendapat perhatian atau dengan kata lain tak diurus kelanjutannya. Hal ini tercermin dari banyaknya orang yang membuat Blog atau membangun sebuah Website namun yang terjadi hanya penelantaran dan tak ada perawatan. Pada awalnya mungkin Blog atau website tersebut masih padat dengan berbagai postingan namun jika lebih dicermati lagi dan diamati pada kemudian hari maka dapat dipastikan alamat Blog atau Website tersebut terbengkalai dengan postingan-postingan lama.

Banyak faktor yang menyebabkan terbengkalainya atau tidak terawatnya Blog atau website tersebut, salah satunya yaitu kurang fokusnya pemilik Blog atau website dalam mengolah, mengatur dan yang paling utama soal posting yang minim. Fokus merupakan aspek terpenting dalam menjalani atau melakukan sesuatu yang jika diabaikan maka akan menjadi penyebab tidak terpenuhi atau tercapainya sesuatu itu. Aspek fokus alam kaitannya dengan perawatan Blog atau Website dapat dikatakan merupakan sumber kekuatan utama dalam merawat, mengatur, mengolah Blog atau Website yang jika diabaikan akan menjadi penyebab terbengkalainya Blog atau Website tersebut. Bagi sebagian orang termasuk saya sendiri dalam mengolah Blog atau website terkadang sering membuat Blog atau Website namun sering juga menelantarkannya, hal ini merupakan permasalahan kurang fokusnya terhadap pengelolaan materi dalam Blog atau Website sehingga menyebabkan kurang terawatnya Blog atau Website tersebut. Oleh karena itu, marilah mulai detik ini juga dan mulai dari diri sendiri tanamkanlah fokus dalam diri untuk membangun Blog atau Website demi terawatnya dan tercapainya pengelolaan Blog atau Website yang unggul.